Being a right man in a right place

“Being a right man in a right place”. Dulu, itu adalah visi saya waktu pemilihan ketua OSIS SMA.

Why? Gak paham, saat tau dicalonkan jadi ketua OSIS, saya cerita ke papa mama. Sambil bilang bingung apa visi misinya; saya merasa jauh dari hal kepemimpinan pada masa itu. Modal badan gede, banyak omong, dan deket sama guru aja, bisa jadi pengurus OSIS.

Papa mengutip being a right man in a right place ini. Saya tanya, maksudnya apa? Maksudnya ya, kalau memang jadi ketua OSIS, pastikan bahwa kita adalah right man. Susah? Belajar. Gimana caranya biar jadi right man. Buktikan. Kalau masih merasa bukan right man, ya sudah, mungkin tempatnya bukan di ketua OSIS.

Semalaman saya membuat pidato kampanye ‘ala-ala’ dengan bermodalkan being a right man in a right place itu. Keesokan harinya, setelah upacara bendera rutin di hari Senin, saya dan beberapa kandidat lain menyampaikan visi misi kami masing-masing. Dilanjutkan dengan pemilihan suara. Hasil akhir? Saya menjabat jadi Sekretaris OSIS selama satu periode.

Gagal jadi ketua OSIS? Ya. Tapi apakah saya sedih atau kecewa? Nggak, karena berarti I ain’t no right man for that place 🙂

Setelah ajang pemilihan ketua OSIS itu, saya gak lagi memikirkan makna lain dibalik being a right man in a right place yang dibilang papa. Sampai akhirnya, belakangan saya menyadari betapa deep-nya makna frasa tersebut kalau digali.

Hmm, kalau ngomongin office politics, gak akan habis dan kelar ya. Dan saya selalu bersyukur telah dipertemukan oleh beragam jenis sifat manusia sampai di umur saya ke-27 ini. Termasuk diantaranya, beberapa sifat kolega kantor.

Saya yang baru bekerja di beberapa tempat, sampai di titik dimana kaget khanmaen di baladanya office politics; apa kabar mereka yang sudah khatam bekerja di banyak tempat dan sudah lama masa kerjanya, ya? Satu hal yang saya pelajari, gak lagi saya menggunakan kantor sebagai tempat dimana saya mencari teman. By friends, I mean, real friends.

So, here comes the real story. Sebelumnya di postingan ini, ini, dan ini, saya sudah pernah merasakan sedihnya ditinggal rekan kantor. Those were my stories when I look for a friend at office; nyatanya, not anymore. Ditinggal rekan kantor di 2018 lalu merupakan titik balik dimana saya menyadarkan diri saya; they also have their own struggles and stories and dreams and hopes. Why I bother being clingy for them? Lagian yang dulunya saya tangisin karena resign, sekarang gak setiap hari komunikasi. So, no more cry cry baby for being like a baby.

Ternyata, di 2019 setengah awal tahun ini, saya sudah harus menghadapi not only a resignation by my teammate, but also the drama from office politics. Betapa tidak, setelah teammate saya mengabarkan rencananya, gak lama setelahnya beberapa rekan kantor lain juga ikut resign. Mendadak, dan berurutan. Coincidence? I think not. Saya yang di kantor merupakan orang yang ceria sok asik dan jarang drama, mendadak jadi terkenal drama karena akhirnya pecah tangis ditengah jam kantor.

Lho, katanya gak sedih ditinggal resign? Ya, sedihnya nggak. Tapi lebih kesel karena membayangkan beban kerjaan yang nantinya akan ada di beberapa pundak orang yang tersisa, and that’s also me. Kesal karena, justru gak bisa memahami lebih awal ada apa sebenarnya yang membuat mereka jadi ikutan resign. Dan sejuta alasan lainnya, yang semakin menguatkan kalau saya gak akan pernah jadi HRD dimanapun. HRD kok baper, dikasih turnover karyawan kok kesel. HA!

Semua ada alasannya. dan masalah atau tidak, none of my business. Anyway, tanpa saya sadari, saya seharusnya sadar, they might be feel that they are not the right person in the right place. People change, people develop, and so does the company.

Dan yang kemungkinan saya juga lupa, ada satu hal lagi yang seharusnya saya sadari: Right man, right place saja gak cukup, tanpa adanya right time.

Lagian, bukankah kehadiran orang-orang baru juga akan membawa penyegaran suasana? And oh, don’t forget that the ship is not sinking, and I might better watch and learn 🙂

Tinggalkan Balasan