Syawal 1440H

Apa yang lebih mengerikan dari dikejar target? Dikejar oleh hewan yang tidak disukai. Well, saya lebih memilih dikejar target. Target menulis blog yang tidak kunjung tercapai. Haha!

Masih dalam suasana Syawal, maaf lahir batin ya dearest pembaca blog saya! Terima kasih telah mambaca walau isinya begini-begini saja, dan ikut mendukung apa yang saya lakukan. In case you asking, karena terakhir postingan saya tentang persiapan mudik, dengan ini saya umumkan saya sudah kembali. Kembali bekerja. Kembali di Jogja. It is wow to be back.

Setelah sholat Eid 🙂

Cerita singkat, kami balik ke Jogja tanggal 9 Juni, dimana tanggal 10 Juni-nya kami harus bekerja. Berangkat jam 8 pagi, you guess sampenya jam berapa? 6 pagi. Jangan ditanya bagaimana keadaan kami begitu sampai Jogja dan harus langsung kerja; rasanya nyawa gak nyatu sama raga. Tapi yaudahlah ya, life must go on.

Okay, terlanjur cerita tentang perjalanan balik, mari kita cerita sekalian perjalanan mudik ibukota 2019 saya.

Kami sampai ibukota dengan menggunakan kereta Fajar Utama, ini kali pertama saya ke Jakarta menggunakan kereta Eksekutif dengan gerbong Bisnis. Maksudnya adalah rangkaiannya itu Eksekutif, tapi spesifik di gerbong yang saya naiki, adalah gerbong Bisnis. Berangkat dari stasiun tugu, dan turun di stasiun pasar senen. Interiornya mirip banget dengan kereta yang saya pernah icip waktu ke Cilacap; gerbong premium dengan reclining seat, tapi kabin agak sempit. Beruntung kami kebagian yang berhadapan (kursi nomor 11-12, fyi) sehingga lega buat kami ber-4. Kereta sampai on time, seperti yang sudah diduga, keretanya sepi karena kami lawan arus 😉 Buka puasa hari terakhir kami habiskan bersama keluarga. So warm karena akhirnya bisa buka puasa sama papa :’) Malam takbiran versi saya dan suami: ke mini market terdekat, jajan, dan ngobrol saja.

Satu Syawal seperti biasa, shalat eid, bersungkem dan foto bersama, lanjut makan ketupat opor.

Yang gak biasa adalah setelahnya: parkir mobil di Sarinah, berjalan menuju…. stasiun MRT untuk akhirnya mencoba moda transportasi ter-hits satu ini. Fyi, kepemilikan e-money di ibukota itu sudah fardu ain hukumnya; kami yang gak terbiasa dengan toll, tap tap di transportasi umum, gagap jadinya. Kami mencoba rute Bundaran HI-Lebak Bulus. Kesan pertama: canggih! Fasilitas kelas internasional dan transportasi yang sungguh memudahkan mobilitas. Yha gimana, per stasiun gak sampai 2menit udah sampai 😀 Wisata selanjutnya setelah MRT adalah muter rute CFD dan monas pakai mobil. Hal ini rasanya jadi wajib mana kala mas suam menyetir di Jakarta. Doi selalu suka pemandangan gedung bertingkat di Jakarta yang sepi 🙂

Setelah itu, kami menyempatkan diri mampir masjid istiqlal untuk shalat. Kondisi masjid masih ramai, maklum paginya presiden shalat eid disana. Banyak pedagang makanan yang menggoda untuk dikunjungi, tapi kami tahan iman untuk makan di tempat lain.

Tempat lain adalah, mal! Rasanya kalau diingat sekarang, sesuatu banget deh satu Syawal ke mal, saat yang lain (dan biasanya kami) masih berkutat di rumah dengan ketupat opornya. Surprisingly, mal-nya rame. Ha! Jakarta, you’ll never sleep. Se-sepinya jalanan, yang ramai masih mal. Santap siang di rapel dengan malam (rencananya), tapi akhirnya kami makan pizza lagi malamnya! Sebuah kedai pizza yang gak boleh dilewati ketika di Jakarta, karena dia belum buka di Yogyakarta. Hiks.

Keesokan harinya, kami langsung masak sayur guna detoks santan. Alhamdulillah bisa santap sayur bening bayam, ikan asin, dan sambal. Yum!

https://www.instagram.com/p/BzQpv4Xlnuc/

Siang menjelang sore hari, keluarga perlahan datang untuk kumpul. Puncaknya jam 8 malam, full house! Dari pakde bude om tante, sampai mas mbak dan adik keponakan. Ini semua belum full satu keluarga penuh, sih. Tapi yha sudah ramai kali! Kami tetap kebagian jadi tuan rumah yang baru bisa tidur jam 1 pagi saking ramainya 🙂 hati ikutan hangat, lho bisa kumpul keluarga besar begitu.

Kumpul semua!

Besoknya, saya dan mas sudah punya agenda berkunjung ke bude dari mas yang kebetulan bertempat tinggal dekat dengan rumah saudara saya juga. Akhirnya kami juga ikutan nyoba transportasi umum lainnya: TransJakarta. Jauh lebih populer dan ramai dibandingkan Trans Jogja, rutenya jauh juga. Karena Syawal adalah tentang bersilaturahmi, kami bahagia bisa berkunjung-mengunjungi sanak saudara walau lelah sekali karena sampai tengah malam lagi :’)

Hari terakhir sebelum balik Jogja, kami menyempatkan diri nongkrong tsantiek di sebuah kedai kopi nun di Sentul sana. Serta, beli baju karena baju kami habis semua kotor 😀 harusnya tanggal 8 itu kami pulang tapi ada extend agenda sehingga kami kehabisan baju dan jadi ada alasan ke mal lainnya lagi 😛

interior mall ala2 instagrammable

Dalam perjalanan pulang ke Jogja, kami juga sempat mampir ke kota asal kami untuk mengunjungi beberapa pakde dan bude lainnya, dan merasakan macetnya arus balik. Kami yang harusnya bisa lancar di jalan tol yang mengarah ke timur pulau Jawa, jadi terimbas kemacetan one way toll road, dan juga kena imbas berhentinya kendaraan arus balik.

Kapok? Nggak, tenang aja. Tapi tahun depan jadwalnya lebaran di Jogja, so… mungkin ceritanya akan berbeda 🙂

Ini warna warni Syawal-ku, bagaimana denganmu?

Tinggalkan Balasan