Rasanya Ngonten

Seneng rasanya kalau mulai ada yang notice atau tanya-tanya soal apa yang saya lakukan ini. Ya, maksudnya soal blogging and podcasting ini.

Kadang beberapa teman ada yang nyeletuk “Eh foto dong, nih. Lumayan kan buat konten blog-mu!“, atau kemarin-kemarin juga ada yang bilang “Yuk podcast-an bareng, seru deh kayanya!

Walau setelah dikomentari begitu, biasanya saya jadi salah tingkah dan malu. Malu karena selama ini merasa kurang konten, padahal sekitar juga banyak kontennya. Malu karena selama ini sibuk cari alasan untuk gak bikin konten. Malu karena masih belum bisa konsisten; walaupun tentu saja hal ini tidak bisa dimaklumi.

Percaya deh, ketika gak konsisten, ‘njepat’ seketika.

Membangun konten menarik supaya orang mau visit, atau dengarkan suara renyah garing kriyuk kriyuk di podcast, bukan suatu hal yang mudah. Terus ketika orang sudah mau reguler visit, tapi kita mendadak gak konsisten.. beuh seakan ngejar percepatan belajar di kelas setelah gak masuk sekolah satu bulan. Susah lagi balikin visitornya

Jadi ya sudah, mari selalu mengupayakan konsistensi; kalau teman-teman blogger dan podcaster lain dengan kesibukannya yang jauh lebih sibuk dari saya saja bisa konsisten, then what’s my excuse? Nothing.

Ada juga teman-teman kepo pengen tahu, motivasi saya apa sih posting hal-hal penting gak penting di blog, ngoceh seolah ada yang dengerin-padahal nggak di podcast.

Buat apa gitu. Mau update stories di Instagram, post, harus pergi ke suatu tempat dulu, cari objek foto bagus, editing, bikin caption, baru upload. Kenapa harus lelah-lelah? Apakah menghasilkan uang?

Ada, yang nanya begitu banyak 😀

Jawabannya, belum. Saat ini baik blog pribadi saya maupun podcast saya belum dimonetisasi. Secara rupiah, belum bisa dikatakan menghasilkan uang.

Lha, terus?

Alhamdulillah kalau sekarang saya bisa jawab, ada sovenir-sovenir kecil yang saya dapatkan, dari hasil saya menulis.

Saya pernah dapat voucher potongan menginap di salah satu hotel, karena saya menulis review melalui platform traveling. Blogger perempuan juga memberikan saya sertifikat, mug, dan dust plug, hasil dari menulis konsisten selama 30 hari. Mug itu saya pakai setiap hari di kantor, narsis dan bermanfaat. Beberapa minggu yang lalu, saya juga dapat gantungan kunci lucu hasil dari ikut kuis menulis kecil-kecilan. Dan yang menurut saya paling bermanfaat, saya dapat satu set alat tes gula darah portable; seperti yang ada di apotek-apotek itu. Hasil dari saya menulis 500 kata tentang pengalaman saya dan keluarga terhadap diabetes.

Itu barang-barang yang wujudnya kelihatan. Yang gak kelihatan tapi gak kalah bermanfaat, ya apalagi kalau bukan personal branding?

Sebagai orang yang sering banget google-ing nama orang lain, saya selalu ingin nama saya ketika di google-ing, hasilnya adalah hal-hal positif yang saya lakukan.

Mungkin saya belum bisa menjawab “Apa, kamu gak kenal saya? Coba google-ing nama saya!” Atau juga belum bisa memasang tarif berdasarkan personal branding saya. Tapi, bukankan personal branding adalah buah dari apa yang sudah kita lakukan secara konsisten? Nama-nama besar yang kita (saya) kenal saat ini, Alexander Thian, Ario Pratomo, bahkan Gary Vee, adalah orang-orang yang membangun personal brandingnya sudah jauh lebih dahulu. Apa yang mereka rasakan sekarang, hasil kerja keras mereka konsisten membangun personal branding.

Yaa eyke gak ngarepin langsung bisa terkenal macam mereka, lah. But why not? Kalau kita yakin sudah di jalan yang benar, keep on doing saja! Tentu saja selalu belajar di setiap harinya, juga.

Here I gave you an excerpts of what I’ve got when I attended Amrazing’s workshop about building personal branding:

I thanked you all for noticing what I am doing right now. Makasih untuk supportnya, menginspirasi untuk membuat konten, menikmati konten, dan menghargainya. I am trying to keep doing this, and be better. Always.

Silahkan disimak recent podcast saya, juga! 😀

a wife, Mon-Sat office worker.
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *