Day21 – Favorite Housework (#BPN30dayBlogChallenge)

Aselik membaca tema hari ini saya jadi ikutan mikir, “hah, pekerjaan rumah tangga?” dan sesaat kemudian menyadari kalau saya… memang sudah berrumah tangga. HAHAHA goks! 😀

Jadi, sebagai anak perempuan pertama dalam keluarga, dari kecil orang tua saya memang sudah mendidik cukup keras perkara pekerjaan rumah ini.

Yes saya anak tunggal selama empat belas tahun. But, itu tak lantas menjadikan saya anak yang manja dan tidak mau mengerjakan pekerjaan rumah. Big no.

Papa saya adalah sosok yang sangat disiplin, dalam hal apapun. Disiplin waktu, disiplin pekerjaan, disiplin janji, dan sebagainya. Saat saya masih kecil, papa selalu melakukan ‘sidak’ setiap pulang kerja. Apakah meja ruang tamu dan meja makan sudah bersih. Apakah lemari TV sudah dilap dan bebas debu. Apakah lantai sudah disapu dan dipel. Apakah piring sudah bersih dan bebas bau amis. SE-LA-LU. Saya dan mama yang ada di rumah, akhirnya membagi pekerjaan rumah menjadi dua tugas: mama bagian dapur (memasak, mencuci piring) dan juga mengepel. Sementara saya bagian lap seluruh bagian yang bisa dilap, membersihkan dengan kemoceng yang tidak bisa dilap, plus menyapu rumah dan teras. Setiap hari lho. Karena papa akan pulang jam lima sore dan menginspeksi. Kalau masih ada yang kotor, beuh siap-siap kuping panas diceramahin sampai makan malam selesai. That’s my dad.

Sementara mama pastinya merasa diuntungkan dengan adanya aturan ketat dari papa, akhirnya juga mengajarkan saya akan pekerjaan rumah. Menyesal? No, karena saya sekarang jadi gak merasa jijik ketika harus bebersih dan melakukan pekerjaan rumah. Setidaknya rumah sendiri, yang setiap hari ditinggali. Dan saya juga bersyukur sekali punya suami yang dengan senang hati membantu pekerjaan rumah apapun. Tinggal berbagi tugas, dan kami bisa kerja sama.

Si mas suam, entah di rumah sendiri maupun di rumah mertuanya (yang notabene rumah keluarga saya), pernah bebersih dan melakukan pekerjaan rumah.

Apakah saya risih, tidak. Jaman now gak ada ceritanya pekerjaan rumah itu seratus persen urusan wanita. No. Emansipasi dong. Toh yang hidup di rumah tersebut juga bersama, sehingga tanggung jawab milik bersama juga. Mas suam paling jago dan bersih apabila mengerjakan pekerjaan rumah yang namanya: bebersih kamar mandi dan mencuci piring. Beuh, bersih beneran! Walau lama pengerjaannya karena doi teliti banget, tapi yaa..worth the wait kok hasilnya.

Saya, paling bahagia kalau harus mencuci baju. Rasanya enak aja gitu, direndem, ditunggu dulu, dikucek, dan dijemur.

Memang saya belum khatam dalam hal mencuci baju, karena celana jeans selalu saya laundry. Berat yha bu ibuk. Tapi saya tiga tahun lebih bertahan mencuci tanpa menggunakan mesin cuci. Why? Karena saya ngekos 😀 Di kosan yak, kalo weekend, isinya ember rendeman cucian semua tau! Dan mencuci tanpa menggunakan mesin cuci ini, lebih bisa diteliti dan dikucek bagian yang memang kotor banget.

Selain mencuci baju, saya paling suka bab beberes. Put everything on its place, lah gitu. Makannya ya, saya bisa senewen berhari-hari kalau ada anggota keluarga atau yang tinggal serumah, tapi gak bisa menaruh barang-barang sesuai pada tempatnya. Ish, don’t ever deh pokoknya kalau in front of my eyes. Gemas dan bisa marah, lho saya 😀

Jadi, kapan nih ada rencana berkunjung ke rumah saya? Nanti ya, nunggu semuanya siap 😀

a wife, Mon-Sat office worker.

Menurut kamu?