Day5 – About Social Media (#BPN30dayChallenge2018)

Photo by Tracy Le Blanc from Pexels
Hmm, what to say about social media anymore, ya?

Saya sudah pernah bahas soal consent di dunia maya. Di social media. Silahkan dilihat postingannya di link berikut. Lha malah promosi, dan tidak bermutu pula! Hahaha 😀

Baik, mari cerita perkenalan awal saya dengan social media.

Saya pertama kali punya akun email, sekitar kelas 1 SMP. Saat itu sosmed mungkin belum terlalu popular; tapi alasan utama saya buat akun email adalah untuk…….. mendaftar Friendster! Yang masih kenal Friendster berarti kita seumuran! 😀 (jebakan umur) dan juga untuk mendaftar milis, tau kah? Itu lho grup email, jadi kita bisa berbagi cerita ke sesama anggota milis tersebut. Dulu, saya join milisnya Harry Potter 😀 Inget banget buat akun email pertama di warnet seberang sekolah waktu di Bekasi. Alamat emailnya masih aktif saya pakai, lho! Walaupun usernamenya alay tiada ampun 😛

Ah, andai sekarang Friendster masih aktif menjadi sosmed dan berdampingan indah dengan facebook ya.. pasti masih alay deh. Dulu, saya pakai nama asli dan jelas saat buat Friendster. Memberi testimoni ke teman-teman (yang padahal juga teman SD, SMP, dan keluarga sendiri), melempar shoutout selayaknya status, dan menghias profil dengan indahnya bertabur glitter. Ini pada tau gak ya, jangan-jangan saya yang heboh sendiri menjelaskan Friendster.

https://farm2.static.flickr.com/1428/1290058552_9a7dc4c9c6_o.jpg
ilustrasi friendster (Pic: Flickr)
Facebook menjadi sosmed kedua yang saya miliki, sekaligus menggantikan keberadaan Friendster dari dunia persosmed-an.

Berbeda dengan Friendster, Facebook tampilan background dan layoutnya tidak bisa di custom sendiri. Alhamdulillah, nama facebook saya sedari dulu tetaplah nama jelas dan lengkap (tidak mencantumkan nama alay :P) tetapi status yang pernah saya posting, Allahuakbar alaynya. Sampai sekarang, kalau diingatkan sama Facebook tentang apa yang terjadi di masa lampau dulu, saya selalu geleng-geleng tepok jidat senyum risih. Aneh banget sih saya dulu.. Kehadiran medsos, ikut mendorong kehadiran ponsel-ponsel yang memiliki kemampuan koneksi internet. Sehingga, update status bisa dilakukan dimana saja. Saya termasuk yang sempat ada di masa dimana beberapa menit sekali update status di Facebook. Hahaha!

Kemudian Twitter hadir, dan saya aktif di Facebook sekaligus Twitter. Saat itu mulai ada rasa malu apabila keseringan update status di Facebook, akhirnya cuma pindah alay ke Twitter. Kalau disimak, saya sudah mentweet 30ribu-an tweet yang… mayoritas gak penting-penting banget. Tuh kan? Padahal kalau dibuat di blog, bisa ribuan kata-kata lho. Twitter juga dibilang medsos micro-blogging, dimana kita dituntut menggunakan 140 karakter dalam berekspresi (sekarang sudah update 2 kali lipatnya sehingga, 280 karakter). Kalau Facebook saya saat ini hanya digunakan sebagai sarana share apa yang saya tulis di blog, di Twitter saya masih lebih aktif. Bahkan, saya bertemu orang-orang hebat karena Twitter. Di Facebook, silahkan deh mencari foto-foto jadul nan alay saya pada masanya. Saya sendiri dapat teman dari Facebook, hanya dikit, karena teman di Facebook sebenarnya adalah teman nyata yang berteman lagi di internet. Tau kan maksudnya? Tapi di Twitter, saya mendapat teman-teman beneran, yang hebat karena kemampuannya, dan kocak-kocak. Oya, kalau mau konfirmasi berita juga saya lebih sering buka Twitter karena real time dan aktif banget, sementara Facebook udah ribet alogaritmanya.

Kemunculan saya di Instagram, Path, Snapchat, juga Ask.fm boleh dibilang terlambat karena saya baru aktif pegang android di tahun 2013-an.

Snapchat dan Ask.fm sudah lama saya tinggalkan karena saya kurang bisa produktif di platform itu. Gak terlalu menikmati juga, sih. Path saya tinggalkan semenjak Instagram saya rasa lebih asyik. Kemarin juga Path tutup, tapi saya masih sempat backup data, yang lagi-lagi membuat geleng-geleng karena ternyata yang saya share gak penting-penting amat. Yang asyik di path itu adalah notifikasi ketika kita berpindah tempat. Arrive at blablabla, sleep at blablabla. Saya juga sempat hiatus sebentar di Instagram; karena kadang merasa too much in there. Too much drama, too much jealousy, too much branded things. Tapi saat ini, nyatanya saya masih aktif ber-Instagram ria, terutama setelah belajar bahwa Instagram merupakan platform yang enak untuk personal branding. Rasanya Instagram will be long exist kalau isinya orang-orang yang kreatif dan diisi hal-hal yang positif. Walau beneran deh, jempol netizen di Instagram jauh lebih mengerikan dari yang di Facebook.

Kesimpulannya, sosmed menurut saya asyik banget ketika bisa dimanfaatkan sesuai tujuannya. Kalau kalian masih merasa sosmed kalian gak asyik dilihat, atau banyak hal negatifnya, coba deh dilihat lagi yang kamu follow tuh apa. Mungkin memang salah following? Atau bisa coba bebersih socmed sebentar, difilter lagi mana yang emang layak follow dan yang tidak. Bukan karena teman dekat, gak enak mau unfoll, sekarang udah ada fitur mute kok, #EH!

Jadi, sudah sejauh mana memanfaatkan socmed? Yuk berbagi cerita dan ilmu!

3 Replies to “Day5 – About Social Media (#BPN30dayChallenge2018)”

  1. Samaaaa mbak, saya juga awal main sosmed itu Friendster dan ketemu suami juga di Friendster hihi

    1. Hebaaat! Saya di friendster gak ketemu teman-teman baru, mba. Isinya teman-teman yang di kehidupan nyata sudah berteman, terus sok gaul di friendster.
      Sayang ya, fitur-fitur andalan friendster gak terbawa di sosmed lain 🙁

  2. […] Saya sempat hiatus beberapa saat dari Instagram, karena saya merasa banyak gak manfaatnya mainan ins…. Terutama juga karena Instagram candu banget sih! Rasanya kalo gak buka Instagram barang sebentar, saya mulai merasa ‘something missing’. Usut punya usut, rasa itu namanya FoMO, Fear of Missing Out. Takut gak update, takut gak paham kabar temen gimana, takut dibilang “masa sih gak ngerti berita itu? Kan lagi hits banget di IG!”. Lepas dari Instagram, saya ke Twitter. Dari twitter juga saya dapat beberapa akun Instagram yang feedsnya oke, gak cuma oke dari segi visual, tapi juga storytelling dan pembawaannya. Insightnya, cara pikirnya, dan apa yang dia bagikan adalah bermanfaat. […]

Tinggalkan Balasan