Day9 – Cities I’ve Ever Lived (#BPN30dayBlogChallenge)

Sedikit berbeda dari garis besar tema hari ini, saya kali ini pengen bahas tentang kota yang pernah saya tinggali. Menyadari sempat hidup nomaden dan ada kejadian pindah berpindah, saya rasa saya bisa mulai cerita soal hal ini. Beberapa kawan juga mungkin sudah pernah dengar (via podcast saya) ataupun baca di blog ini bahwa saya sempat bercerita “dulu ketika saya masih tinggal di ___”. Nah, itu tanda-tandanya saya pernah berpindah kota 🙂 Berikut kota yang pernah saya tinggali (lebih dari satu tahun):

1.       Jakarta

Yep; saya lahir bukan di Jakarta, tetapi sejak umur 40 hari saya sudah tinggal di Jakarta. Saya dibesarkan saat bayi di sebuah rumah kontrakan kecil di daerah Utan Kayu, Jakarta Timur. Papa mama dulu masih bekerja kantoran, dan saya ditinggal bersama dengan nanny. Saya dengar cerita kalau kulit saya sempat iritasi akibat dimandikan menggunakan sabun orang dewasa. YHA. Dan di rumah tersebut, papa dan mama saya banyak belajar soal kehidupan awal pernikahan. Tinggal berdua dengan jumlah piring dan sendok hanya dua buah, mengalami atap jebol karena ada kucing yang berlarian, dan sebagainya. Walau saya tidak ingat pernah tinggal di rumah itu, tapi pelajaran dari cerita mereka membuat saya jauh lebih bersyukur menghadapi kehidupan awal pernikahan yang lebih nyaman 🙂

2.       Bekasi

Ini saya mulai nomaden. Jadi ceritanya papa dan mama akhirnya membeli sebuah rumah di daerah Jatimulya, Bekasi Timur. Mana nih yang anak Bekasi? Kami akhirnya pindahan ke Bekasi saat saya berusia sekitar 2 tahun. Ini terbukti dari adanya foto saya berbalut rok tutu saat meniup lilin di ulang tahun kedua saya, dan lokasinya di Bekasi. Seingat saya, sekitar setahun sesudahnya kami ‘mengungsi’ sementara ke rumah Pakde di daerah Cibubur, Jakarta Timur karena rumah yang di Bekasi sedang di renovasi ulang. Pokoknya di umur ke empat, saya banyak ingat tinggal di Cibubur.

Barulah setelah rumah jadi, satu tahun sesudahnya lagi, kami kembali ke Bekasi.

Total saya tinggal di Bekasi sekitar 9 tahun. TK dan SD saya habiskan full di Bekasi, saat SMP kelas 1 dan 2 saya habiskan di Bekasi, dan kelas 3 kami pindah. Menurut saya, sembilan tahun bukan waktu yang sebentar. Banyak sekali kenangan yang saya (atau kami sekeluarga) tinggalkan di Bekasi. Saat-saat pertama saya bisa menjalankan sepeda, saat saya hobi membaca, saat saya dibentuk menjadi pribadi yang sangat disiplin dengan waktu (karena untuk berangkat sekolah, saya harus sudah jalan dari rumah jam setengah lima pagi), pertemanan awal saya, saat saya puber, saat saya kaget mengetahui mama hamil adik saya, dan kota kelahiran adik saya. Oh ya, pastinya sang cinta monyet yang baru kemarin melangsungkan pernikahannya. HAHAHA

3.       Bumiayu

Di umur saya yang berusia sekitar 14 tahun, dan di umur 40 hari adik saya, kami pindah ke kota kelahiran papa dan mama, Bumiayu; sebuah kota kecamatan kecil di kabupaten Brebes, yang lebih dekat ke kota Purwokerto. Pokoknya ngapak! Kepindahan ini laksana cambuk bagi saya. Saya yang saat itu sedang senang-senangnya bergaul dari mall ke mall di Bekasi (dan Jakarta), mau gak mau harus ikut orang tua dan pindah ke kota yang.. mall saja tidak ada.

Saya ingat sekali, proses adaptasi bagi saya sangat lama.

Teman-teman yang berbeda selera, lingkungan yang jauh berbeda, membuat saya bingung harus mulai darimana. Beruntung tak lama saya bertemu dengan teman-teman yang sudah melek internet dan gak segan mengajak saya bolak balik ke warnet. Kemudian semua terasa indah kembali; saya berlangganan pinjam novel terbaru, beberapa bulan sekali ke Purwokerto (yang ada mall-nya), dan saya tidak merasa missing out karena rajin ke warnet. Sungguh lah, sampai yang punya warnet hafal dengan saya.

Lulus SMP, saya juga melanjutkan SMA di Bumiayu, mengisi waktu high school dengan jutaan kenangan yang menurut saya gak akan mudah saya lupakan. First love, first boyfriend, second boyfriend, and best friends. Walau jarang menyambangi mall dan bergaul layaknya pergaulan di kota besar lainnya, saya cukup bahagia karena mempunyai sahabat yang tetap setia mendengarkan.

4.       Yogyakarta

Perpisahan SMA, pendaftaran perguruan tinggi, saya tidak menyangka saya akan tinggal di Yogyakarta. Dulu, saya begitu ngebet tinggal di Semarang, hanya karena orang yang membuat saya patah hati pertama juga ada di Semarang. Yogyakarta tidak pernah ada dalam pilihan saya. Bahkan saya sebenarnya menyukai Purwokerto dulu, baru Jogja. Namun takdir berkata lain, saya akhirnya diterima di salah satu perguruan tinggi negeri di Yogyakarta. Menghabiskan masa kuliah 2,5 tahun, kembali pulang ke Bumiayu, untuk akhirnya pindahan ke Jogja lagi enam bulan kemudian setelah panggilan kerja saya di Jogja. Bertemu pujaan hati dengan cara yang seperti ala-ala FTV, pekerjaan pertama dijalani selama 3 tahun, pindah kerja, dan akhirnya memutuskan untuk sekalian ‘memindahkan’ orang tua beserta adik ke Jogja. Alasannya, saya ingin kumpul bersama mereka.

Walau sejujurnya, saat itu untuk makan sehari-hari saja kami susah.

Laptop dan kalung hadiah dari mama saya jual demi memindahkan mereka agar dapat hidup bersama. Bertahun-tahun terikat dengan hutang agar mereka masih bisa bertahan di Jogja. Tapi memang hasil tidak mengkhianati usaha, alhamdulillah saat ini mereka bahagia. Pulang ke rumah untuk melihat muka mama dan adik, sarapan dan membawa bekal hasil sarapan dari masakan mama, bisa bantu adik belajar di malam harinya, merupakan cita-cita lama saya. Sementara saat ini papa masih di Ibukota, mengerjakan apa yang beliau sukai dan tekuni. Bahkan sampai saat ini saya sudah menikah dan memiliki rumah sendiri, saya masih terharu kalau ingat usaha kami dahulu. It has not pay off yet, tapi perlahan saya yakin kami bisa.

Those are cities I’ve lived in, dengan segala ups and downsnya.

Saat ini saya sekeluarga sudah resmi menjadi warga Yogyakarta. Apakah enak hidup pindah-pindah? Tentu selalu ada hikmah dan pelajaran yang selalu saya bawa. Dan apakah masih ada rencana pindah kota? Saat ini sih impian saya sebenarnya pindah negara (kalau bisa) 😀

a wife, Mon-Sat office worker.

Menurut kamu?