delapan Juli 2017

*anaknya iseng nge-late post acara lamaran
jadi, hari Sabtu, 8 Juli 2017 kemarin akhirnya saya dan si mas melaksanakan acara lamaran, tunangan, apa itu lah istilahnya.
gatel pengen cerita banyak, tapi takut keburu ini itu. dan akhirnya memilih banyak diam walau banyak kerja juga di belakangnya, saking lamanya diam, sampai akhirnya lupa cerita.
saya bagi ceritanya dari awal sampai selesai acara ya..
enam tahun pacaran pastinya bukan hal yang sebentar bagi kami. dari yang awalnya masih sama-sama kurus dan anak kuliahan, sampai alhamdulillah kami menggemuk bersama dan sekarang sudah bisa menghasilkan uang dari jerih payah sendiri.
kami berkenalan dan akhirnya memutuskan bersama di tahun 2010, dengan tanggal yang tidak jelas. HAHAHA, kami memang bukan freak/maniak tanggal cantik sih 😛

beberapa teman-teman saya bertanya, seperti apa rasanya di propose? apakah sama dengan yang ada di film-film? acara TV?

jawaban saya, no. *sambil ngakak*

saya memang tidak mengharapkan si mas menjadi lelaki romantis nan manis, cukup dia mengerti saya ketika sedang lapar dan ditawari “mau makan apa?” jawabnya “terserah” lantas ke tempat makan favorit yang makan berdua habisnya kurang dari Rp.50.000 saja. WKWKWK
so, obrolan mengenai lamar melamar ini sudah ada di obrolan daily kami, pertengahan 2016 lalu. kami memiliki keinginan yang sama untuk menikah di usia 25 atau 26 tahun, agar perencanaan keluarga dan finansialnya bisa lebih fleksibel.
nahh, 25 tahun-nya kami kan di tahun 2017, gak sempet nih langsung semua dalam satu tahun, akhirnya kami berunding untuk mengadakan satu acara saja setiap satu tahun. which means, lamaran di 2016, merit di 2017.
itu rencana awalnya. tapi, ternyata Allah SWT mempersiapkannya gak seperti itu.
2016 pertengahan membahas acara, bla bla bla
oktober 2016 saya resign dari kantor lama, mulai dari nol dengan kantor baru.
november 2016 si mas kena musibah kecelakaan
kami putuskan di tahun 2016, tidak mungkin bagi kami mengadakan acara lamaran. too tight in time. kami reschedule lagi di pertengahan 2017, berarti nikahan di 2018.
awal tahun 2017, kami mulai sounding ke pihak keluarga. apa yang direncanakan cara soundingnya, ternyata tidak se-kaku itu! hahaha saya bilang ke mama-papa, kalau mau ngadain acara lamaran. si mas juga cuma ngobrol ringan sama maminya, terus jadi lah kita lebih serius dan intens ngobrol semua tentang lamaran itu.
seingat saya, H-6 bulan, saya sudah mulai mbahas tema dan lainnya. pembahasan tema dan konsep acara ini cukup membuat kami me-reset beberapa pilihan. dari yang mulanya kami ingin acaranya di rumah, tapi tidak memungkinkan di rumah saya, akhirnya ingin cari homestay besar yang bisa menampung keluarga, tapi juga harus cari katering dan lainnya.
proses menentukan tempat, pastinya akan berpengaruh besar ke pemilihan tema dan konsep acara. maka dari itu, sekitar 1 bulan kami menggodok habis-habisan tentang pemilihan tempatnya.
atas pertimbangan kesimpelan dan anti repot, setelah mengajukan ke papa, akhirnya kami sepakat untuk mengadakan di luar rumah alias cari restoran yang bisa di booked.
tidak repot tempat, tidak repot katering, dekor, dan segalanya.
mulai lah kami hunting venue, dari utara selatan barat timur Jogja disambangi. alhamdulillah ada 1 restoran yang kami ber-enam (mama papa adek mami saya dan si mas) suka banget sama konsep tempatnya, harganya, dan yang pasti masakannya.
sebagai anak yang perfeksionis, saya selalu membuat ceklis, dan mengupdate setiap kegiatan yang kami lakukan, di buku jurnal.
cari venue, pilih makanan, baju, bawaan, make up, cincin, dll.
so, venue yang kami pakai adalah di Bale Ayu Resto Jombor. detailnya kalian bisa lihat Google Map, atau di sini. makanannya enak, harganya wajar, tempatnya lucu! tambahan, staffnya ramah dan enak banget diajak diskusi soal makanan, konsep acara, atau mau nanya-nanya juga boleh kok. dengan memesan makanan, kami sudah free venue charge selama 3 jam. menurut saya, 3 jam pas sekali untuk sebuah acara sederhana. pasca acara, alhamdulillah keluarga suka semua. komentar mereka bahwa tempatnya lucu dan intimate! you guys should try to go there, deh 😉
setelah venue dan makanan, akhirnya kami bisa menyusun konsep acara. kami memang pengen acara yang bersifat ‘sangat kekeluargaan’, hangat dan private.
untuk memudahkan, kami langsung pilih tanggal 1 Juli 2017, selain karena tanggalnya cantik, juga karena masih dalam suasana Syawal, sehingga kami pikir akan lebih gampang mengumpulkan keluarga. ternyata eh ternyata, kami mengalah untuk kakak sepupu saya yang juga pada tanggal tersebut mengadakan acara nikahan.
jadi lah tanggal acara kami mundurkan seminggu. dan saya memang pengen acaranya diselenggarakan hari Sabtu sore, agar keluarga saya yang dari luar kota, bisa istirahat setelah perjalanan, dan masih bisa jalan-jalan di hari Minggunya. alhamdulillah tanggal tersebut masih available untuk venue, dan juga untuk keluarga yang diundang. maklum, kami mengundang mereka H-4 bulan. tapi lumayan lah, mereka jadi bisa siap-siap in advance.
acara juga memang kami rencanakan sore hari, karena si mas masih kerja setengah hari, dan mami (mamanya si mas) juga masih kerja di hari Sabtu itu. jadi waktu yang tepat memang hari Sabtu sore, plus nyari supaya gak terlalu panas cuacanya, biar bisa dapet lighting bagus (rencananya).
selanjutnya, kami hunting baju! untuk baju ini juga kami gak mau banyak repot. kalau ada, syukur-syukur kami bisa pakai baju yang sudah jadi. gak perlu beli bahan, ngukur, njaitkan, dll dll.
untuk baju mama, mami, dan saya, kami hunting ke Pasar Bringharjo Lantai II. disitu lengkap baju-baju formal, semi formal, blus kekinian, kain lilit, kutubaru jadi siap pakai, kebaya brokat, yang bisa gampang banget ditemui.
harganya juga gak kalah kompetitif, berkisar dari 100-200k. kalau badanmu berukuran S-L, rasanya 150k aja sudah bisa dapet 1 stel blus+kain lilit.
dengan badan ukuran L4, saya dapet kebaya bordir jadi, dengan harga 120k. kain lilit 50k. kuncinya: harus sabar dan telaten untuk muter-muter setiap los dan nanya-nanya ke penjualnya.
ini juga sempat balada sih. jujur saya naksir atasan blus lengan kelelawar yang lagi hits, please google this if you hard to imagine. yang akhirnya saya beli atasan dan bawahannya seharga 150k. yang akhirnya harus saya edit lagi di tukang jahit langganan, supaya kain lilit bisa jadi kain siap pakai, dan blusnya dibuka jahitannya 5cm biar badan saya bisa masuk.
terus saya dikomplain sama mami, katanya mending kebaya aja… akhirnya saya galau. dan mengulang jalan-jalan ke bringharjo tanpa mama dan mami untuk cari kebaya jadi. kali ini saya dapet kebaya bordir jadi dengan harga 120k, dan bawahan kain batik jadi seharga 70k.
putar otak, saya akhirnya menukar pasangan kebaya dan blus itu. blus kelelawar saya pasangkan dengan bawahan batik jadi, dan kebaya bordir saya pasangkan dengan kain lilit. alhamdulillah warnanya senada, jadi gampang untuk ditukar.
blus kelelawar dan batiknya itu saya pakai untuk datang ke acara nikahan sepupunya si mas, H-2 sebelum acara lamaran kami.

blus
inilah penampakan blus kelelawar+kain batik jadi yang akhirnya saya tukar komposisinya

mama dan mami dapet kebaya seragam dengan aksen bordir dan lengan yang balon, untuk 2 pcs kebaya dengan harga 200k, dan kain aksen rempel yang udah jadi dengan harga 100k untuk 2 pcs. ah, dan di Bringharjo juga.
si mas juga agak lebih drama sih, cari atasan batik, dari yang awalnya beli kain untuk dijahit di penjahit langganan, sampai galau beli jadi di salah satu butik batik. akhirnya sih bikin bajunya. kainnya kami beli di Ganesha jalan Solo/Laksda Adi Sucipto, sebelah barat Gardena, dengan harga 35k/meter. dan celananya, si mas beli di De Kosmo jalan Magelang, brand Zara (entah ori/gak, yang penting muat) dan sepatunya akhirnya beli (karena si mas gak punya sepatu formal) di Payless. kalau ditotal, si mas lebih banyak pengeluarannya karena agak susah nyarinya dan kenyamanan bagi si mas nomor 1, jadi daripada gak nyaman, mending keluar uang lebih.
kami lanjut perjalanan ke membeli cincin. jadi memang kami inginnya bukan acara tukar cincin, tapi hanya penyematan sebagai tanda ikatan. sehingga kami hanya butuh satu cincin, dan disesuaikan dengan budget. setelah konsultasi ke teman yang baru menikah, usut punya usut kalau mau cari cincin yang ukurannya besar, coba lah cari ke daerah Ketandan. pergi lah kami (mami, si mas, saya) menyusuri setiap toko emas di Ketandan, dan berhenti di salah satu toko emas (saya lupa namanya, sepertinya Kembar Tiga), yang mengaku spesialisasi cincin berukuran besar. harga emas per gramnya logis, dan model cincinnya juga sederhana, simple. langsung lah cus kami beli satu cincin.
tidak cukup hanya cincinnya, saya baru sadar pentingnya wadah cincin. sebenarnya, bisa banget sih dengan wadah cincin pada umumnya, tapi saya pengen yang wadahnya nampan kekinian itu..
akhirnya pesan lah saya di Kado Kita bagian wedding, pesan sesuai warna tema, dan ditinggal untuk kemudian satu minggu saya ambil kembali. untuk satu wadah cincin, harganya 85k.
wadah cincin
penampakan custom wadah seharga 85k by Kado Kita

lanjut ke pritilan kecil yang banyak dan akhirnya membuat kami bolak balik mengecek apakah butuh atau tidak..
seperti dekor. dari awalnya saya pengen ada backdrop dekor, akhirnya gak jadi karena venue sudah cantik!
make up, dari awalnya saya pengen pakai MUA, tapi setelah tahu harga pasarannya, akhirnya mbelok jadi invest make up sendiri. beli primer, foundation, concealer, eye shadow, dan ta-da! jadilah saya make up sendiri.
fotografer, akhirnya saya mempercayai kakak kelas kuliah kami, mas Fidha (@afidha) yang kami sukai jenis dan hasil jepretannya.
oiya, mengenai make up dan fotografer, saya memang lebih prefer pakai jasa teman/keluarga. kenapa? supaya kesan kekeluargaannya tetap ada, jadi gak kaku antara kami dan vendornya. awalnya sahabat saya Milly sempat menawarkan diri jadi MUA, tapi akhirnya tidak bisa hadir karena masih ada urusan kampus (thanks for the ice tips, anyway!) dan mas Aul sahabat saya juga sempat menawarkan jadi fotografer, tapi di hari yang sama juga berhalangan hadir.
pritilan terakhir adalah bawaan seserahan. kami minta ke keluarga, supaya menyiapkan makanan sebagai seserahannya. istilahnya oleh-oleh dan hantaran. keluarga saya menyiapkan makanan khas Bumiayu, Brebes, dan Banyumas. keluarga si mas menyiapkan makanan khas Jogja. nantinya kami bertukar makanan.
untuk keluarga saya, mama saya lah juru kuncinya. saya bantu menyiapkan list apa saja yang akan dibawakan, ada berapa macam, menggunakan tas/parcel, dll.
sedangkan dari keluarga si mas, karena kami juga enggan merepotkan banyak pihak, akhirnya saya dan si mas yang belanja. as you could guess, oleh-oleh khas Jogja gak jauh-jauh dari bakpia, yangko, dan kawan-kawan. kami belanja oleh-oleh dari mulai pasar, sampai toko oleh-oleh (ya iyalah). proses belanja ini as usual, menyenangkan (bagi saya) dan memalaskan (bagi si mas) karena harus masuk-keluar toko, masuk-keluar dompet, dan jalankan motor kemana-mana.
kami masih belanja snack-snack ini sampai H-1 hari. kami masih beli pisang raja di pasar Bantul hari Jumat siang hari saat kami istirahat kantor! malamnya kami masih menyiapkan bungkusan dan wadah jajanan pasar.
hantaran dari keluarga si mas: pisang raja, buah buahan, wajik, jajan pasar (manis-manis), lemper, dan oleh-oleh khas Jogja. lagi, kami mempercayakan bungkus oleh-oleh ke Kado Kita, sementara pisang raja, wajik, jajan pasar dan lemper kami minta tolong ke tante Tutik (tantenya si mas). hasilnya tsantik semua!
DSC_7189 (Copy)DSC_7190 (Copy)DSC_7208 (Copy)
sebaliknya hantaran dari keluarga saya: buah parcel, bolu topi khas Bumiayu, plus goodie bags yang masing-masing berisi jenang, telur asin, kripik-kripik, dan lainnya (saya gak tahu isi pastinya, si mama semua yang urus!). goodie bag itu diserahkan untuk setiap kepala keluarga, supaya semua bisa merasakan.
sambil mempersiapkan semua untuk acara, kami juga senantiasa mendekatkan diri ke keluarga masing-masing. momen Idul Fitri kami jadikan ajang untuk mengingatkan dan mengundang keluarga, sekalian mendata berapa jumlah pasti keluarga yang akan datang.
berhubung rumah saya kapasitasnya minim, saya putar otak untuk menyewa homestay sebagai tempat menginap (base camp) keluarga besar saya. tidak jauh dari rumah saya, ada K-Sih Homestay yang akhirnya jadi pilihan saya dan keluarga. kami sudah stay di rumah itu sejak H-1 acara, sekaligus menyambut keluarga yang datang dari luar kota.
konyolnya, saya lupa mencari hal-hal esensial seperti manset, hijab, dan ciputnya. dan akhirnya saya baru membeli dadakan pada saat hari H, beberapa jam sebelum acara. ini untuk di note ya, mantemans.. essential things should come first!
jam 2 lebih sedikit, rombongan keluarga saya berangkat lebih dahulu. tujuannya supaya kami bisa menyambut rombongan keluarga si mas, dan bisa menata tempat duduk sesuai urutan, plus juga gladi bersih. alhamdulillah, pihak Bale Resto super profesional! parkir khusus sudah disiapkan, meja dan kursi sudah ditata sedemikian rupa, PIC sudah siap, sound system terinstal, dan mas Afidha sang fotografer juga sudah standby.
jadi lah saya dan keluarga menentukan tempat duduk, pakde yang bertugas sebagai MC bersiap, dan kami sempat foto-foto narsis dulu. walaupun sambil deg-deg an karena pakde yang bertugas sebagai wakil keluarga sepertinya akan terlambat sampai tempat acara.
saya gak berhenti komat-kamit membaca doa dalam hati, memohon dilancarkan dan dimudahkan semua urusannya. sore itu cuacanya lumayan berawan, saya khawatir pakai banget kalau tiba-tiba hujan turun. soalnya area tempat yang kami pakai, semi outdoor, dan gak lucu banget kalau harus berteduh-teduh karena hujan.
meanwhile, si mas ternyata lagi heboh karena satu dua hal, agak telat sampai tempat acara sih, but it was alright.
alhamdulillah acara berlangsung khidmat, tanpa hujan dan kekurangan satu hal apapun. officially fiance!

Slideshow ini membutuhkan JavaScript.


tips untuk yang mau melaksanakan acara lamaran, dan harus mengurus sendiri karena pertimbangan budget, waktu, dan preferensi vendor:

  1. komunikasi. bukan klise, tapi memang esensial. kalau kalian cuma bisa kode-kode supaya kunjung dilamar, ya susah dong buat mengerti. atau kalau kalian para mas-mas yang berniat membuat kejutan, pastikan timing dan caranya tepat, ya.
  2. meningkatkan arah hubungan dari pacaran ke jenjang selanjutnya, bukan perkara unyu atau sweet. butuh niat dan komitmen utuh sepenuhnya. tanggung jawabnya juga besar, jadi coba diingat-ingat lagi alasan ingin melanjutkan hubungan? 🙂
  3. riset kesana kemari. tanya-tanya dulu ke banyak vendor, berapa pasaran harga yang ditawarkan, sebelum akhirnya deal dengan salah satu vendor pilihan. menolak vendor itu hal yang wajar, tapi sampaikan dengan sebaik mungkin.
  4. jangan memaksakan sesuatu hal demi gengsi. sesuaikan dengan budget. semua hal harus dikembalikan ke budgetnya.
  5. dengarkan suara dari orang tua dan keluarga yang sudah berpengalaman. walaupun belum tentu kamu jadikan standar pengambilan keputusan, but you have to listen first. mereka yang sudah berpengalaman, berhak didengar suaranya. hargai pendapat dan opini beberapa pihak, misal apabila kamu gak cocok dengan pendapatnya, tetap sampaikan permintaan maaf 🙂
  6. buat check list persiapan apa saja yang dibutuhkan. saya tadinya mau mencoba pakai template check list yang ada di pasaran, tapi ternyata lebih enak membuat check list sendiri, jadi bisa disesuaikan dengan semua hal.
  7. banyak mendengar, sedikit berbicara, diam-diam di belakang bertindak. maksudnya, dengarkan saran, jangan terlalu banyak berkoar-koar, tapi bekerjanya banyak. seluruh dunia gak perlu tahu kalau kamu akan dilamar 😛
  8. berdoa. selalu. mohon dimudahkan, dilancarkan rejeki dan acaranya, pastinya kesehatan untuk keluarga dan kalian berdua.
  9. tidak ada standar bagaimana sebuah acara harus dilakukan. jangan terpaku pada suatu standar.

terima kasih kepada semua pihak yang sudah membantu, vendor-vendor yang bersedia diganggu dan direpoti, keluarga yang sudah meluangkan waktunya untuk datang, dan buat si mas yang sudah sabar menghadapi.
lantas, kapan hari H pernikahannya? ditunggu saja 🙂 🙂 😀 *ngacir

a wife, Mon-Sat office worker.
5 comments
  1. […] sebagaimana yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya telah melangsungkan acara lamaran/pertunangan/khitbah/(insert other word stated engagement of […]

  2. […] lebihnya sudah pernah saya ceritakan awal mula lamaran dan bagaimana akhirnya terjadi lamaran di post ini; so cerita saya fast forward ke setelahnya […]

  3. […] saya tahu itu hanya mimpi belaka. Sampai tahun 2016 akhir, saya baru berani buat resolusi lagi. Kali itu, resolusi agar saya dapat menyegerakan hubungan dan beralih ke jenjang yang lebih serius. Sejujurnya, saya dan mas suam tidak memiliki keinginan menikah muda, hanya saja, kami memang […]

  4. […] juga jurnal hidup, suka-suka yang nulis, kan? well, sebagaimana yang saya ceritakan di postingan sebelumnya, saya telah melangsungkan acara lamaran/pertunangan/khitbah/(insert other word stated engagement of […]

  5. […] lebihnya sudah pernah saya ceritakan awal mula lamaran dan bagaimana akhirnya terjadi lamaran di post ini; so cerita saya fast forward ke setelahnya […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *