cerita Diza

hampir satu bulan ini Diza menjalani dunia pendidikan sebagai anak SMP.
apapun yang terjadi, dia tetap tersenyum sepanjang hari.
awal Juli lalu, ia mengikuti Pendaftaran Peserta Didik Baru (PPDB) untuk melanjutkan sekolahnya dari jenjang SD ke SMP. berbekal nilai yang pas-pasan, ia berjuang bersama ribuan siswa lainnya.

disekolahkan di kota Yogyakarta, bukan tanpa harapan kosong. awalnya keluarganya menginginkan agar walaupun berasal dari desa, tetapi mental dan pergaulannya harus bisa setara dengan anak-anak di kota. walaupun juga itu artinya ia harus menempuh jarak 16 kilometer setiap harinya untuk perjalanan pergi pulang dari rumah ke sekolahnya. walaupun itu artinya ia akan berangkat jam 6 pagi, menghadapi kemacetan pagi, dan sampai rumah sore dengan keadaan lelah. tiga tahun lamanya ia lalui keadaan seperti itu, diantar jemput setiap harinya, bahkan kadang menggunakan transportasi daring. yang paling merepotkan apalagi kalau bukan pekerjaan kelompok mendadak di rumah temannya, yang mengharuskan dia tidak makan siang dan istirahat di rumahnya dulu.

saat ujian sekolah berstandar nasional menghadang, ia juga mengerjakan soal yang sama – soal yang dikeluhkan oleh teman, guru, bahkan pegawai dinas pendidikan dan kebudayaan setempat. soal yang dianggap tidak sesuai dengan materi pengajaran. soal yang menurut dia, susah sekali untuk dikerjakan.

tak terkejut jika pada akhirnya, nilai ujiannya merosot tajam. padahal, kursus tiga hari dalam seminggu sudah ia jalani setahun terakhir. masing-masing dua jam lamanya. setiap malam juga ia selalu mengerjakan kumpulan soal yang diberikan gurunya. pada saat pembagian ijazah, wakil kepala dinas mengatakan tak usah ragu dengan hasil ujian; sistem zonasi akan menyelamatkan.

pada akhirnya, justru dia yang tergusur dengan sistem zonasi. lokasi rumah tempat ia dan keluarganya tinggal, bukan di kota Yogyakarta; yang berarti bahwa dengan jarak rumah yang jauh, ia tidak bisa seperti teman-temannya, mendaftar di SMP kota Yogyakarta.

dari setelah pembagian ijazah, dia sudah bersiap akan berpisah dengan temannya. keluarganyapun bersiap mendaftarkannya di SMP terdekat dengan rumahnya.

nasib masih tak berpihak padanya, peraturan zonasi di dekat rumahnya, masih menggunakan nilai hasil USBN. di hari kedua dari empat hari pendaftaran, namanya sudah tersingkir dari tiga pilihan SMP terdekat dengan rumahnya. kenyataan bahwa siswa luar kota Yogyakarta, memiliki hasil ujian lebih bagus.

dengan kemampuan seadanya, akhirnya ia masuk ke sebuah sekolah swasta keagamaan. keluarganya menganggap bahwa keputusan ini terbaik; mengingat betapa ngeri remaja jaman sekarang – dengan akses internet dan media sosial, serta kekurangan dampingan dari orangtua.

kini, sudah hampir satu bulan ia bersekolah. di minggu pertama, ia berkenalan dengan lingkungan sekolahnya. walau terasa berat dengan materi keagamaan yang banyak, ia mampu menjalani setiap harinya tanpa kesedihan. bahkan, ia terpilih menjadi peserta orientasi siswa terbaik. tak hanya itu, posisi sekretaris kelas-pun ia dapatkan. puncaknya, ia dapat beasiswa pendidikan dari sebuah perusahaan swasta tempat ayahnya bekerja. saat ini, ia tengah fokus menjalani kehidupan pendidikan, dan ekstrakurikuler idaman dan favoritnya.

tanpa nasihat panjang lebar, ia telah belajar banyak hal. bahwa dengan kesabaran, ia bisa mendapatkan buah manisnya. bahwa tidak selamanya kegagalan itu akhir dari segalanya. yang terpenting, ia belajar bahwa untuk menjadi yang terbaik, tidak harus dengan nilai rapor yang tinggi – karena bakat dan minat, bisa membawanya menjadi yang terbaik.

One Reply to “cerita Diza”

  1. kren banget kata2 nya min

Tinggalkan Balasan