a letter from me to grandpa

terima kasih mbah, sudah mengajarkan banyak hal.
ketika masih kelas 3 SD dan gak tau mau belajar tentang pecahan matematika ke siapa, kata mama “telepon mbah deh“.
ku pikir, untuk apa telepon mbah yang jauh di kampung?
ternyata, mbah bisa ajarkan versi simpel matematika, hitung-hitungan, dan hanya via telepon.
setiap mudik, mbah gak pernah mengeluh rumahnya berantakan karena anak cucunya datang. dengan jumlah anak 12 dan cucu yang kurang lebihnya 2x lipat, mbah adalah orang yang sabar.
terima kasih untuk membiasakan, laki-laki lebih baik shalat berjamaah di masjid, shalat tepat waktu ketika adzan selesai berkumandang, dan mengaji gak harus nunggu bulan Ramadhan.
setiap menjelang mudik, mbah selalu telepon ke anak-anaknya, tanya ingin dibuatkan masakan apa? berangkat jam berapa?
fast forward ke saat tinggal sama mbah, selalu berasa punya ‘satpam’ setiap ada temen yang main ke rumah. semua teman ditanya satu-satu; anaknya siapa, rumahnya dimana. mbah juga yang gak pernah ragu untuk ‘mengusir’ teman-teman, ketika waktu menunjukkan pukul 9 malam.
mbah mengingatkanku terhadap kesederhanaan; saat anak-anaknya membelikan baju koko/batik baru, bagus, dan mahal, mbah tetap memilih untuk pakai baju yang sebelumnya sudah beliau punya. sampai anak-anaknya mengingatkan agar memakai baju yang baru.
mbah mengajarkanku tentang kesetiaan; bahkan saat mbah uti sakit dan harus bedrest, mbah masih memilih tidur satu ranjang. dan mbah memilih untuk bersama mbah uti sampai di peristirahatan terakhir.
mbah selalu berusaha agar tidak manja; sampai umur 80 tahun, mbah masih siap jalan sendiri. ke rumah teman, ke bank, bahkan ke kota untuk sekedar menonton pertandingan catur. kalau tidak diingatkan, mbah masih tetap pengen kontrol dokter sendirian.
mbah adalah bukti nyata bahwa sekalipun tanpa ijazah pendidikan tinggi, belajar bisa dilakukan dimana saja. bahkan otak harus selalu bekerja dan diasah, melalui hobi.
mbah juga yang mengajarkan agar selalu bersyukur. mbah gak pernah minta dibelikan makanan enak ke anak-anaknya; saat lapar, mbah gak ragu makan nasi pakai sambel bawang super sederhana (bahkan gak jarang mbah mengulek sendiri sambelnya).
kejadian konyol mbah versus teknologi yang gak pernah saya lupakan; mbah selalu mengira ada orang dibalik mesin ATM yang setia setiap saat. mbah gak ngerti kenapa cucu-cucunya suka banget megangin gadget dan sering menyindir kita ‘dzikir digital’. mbah selalu bingung kenapa cucu-cucunya selalu menggemari ‘kimos‘ (sebutan yang beliau kasih untuk animasi/kartun) padahal jumlah jari setiap tokoh kartun hanya 4. mbah yang selalu mengira kita mengetik di depan komputer, padahal sibuk main game.
mbah yang tegas, galak, disiplin, tepat waktu.
mbah yang gak suka acara foto-foto keluarga.
mbah terakhirku, mbah yang akhirnya bisa hadir di pernikahanku, dan masih ingat jelas nama lengkap suamiku sampai 2 bulan yang lalu.
terima kasih karena telah menyatukan. sebelumnya, gak semua berencana mudik pada tahun ini. tapi mbah mengumpulkan anak-anaknya, walaupun diiringi tangis.
in memoriam mbah alm H. Khasan Iskak, 1927-2018. terima kasih untuk semuanya, mbah.

a wife, Mon-Sat office worker.

Menurut kamu?