A glimpse of January

january

I know, right. I don’t even start to make an annual monthly report for January. Di awal tahun ini, banyak rasanya tamparan-tamparan dari apa yang sudah saya tulis atau saya canangkan.

Awal Januari, saya dan mas makin menyadari, kalau masa-masa pengantin baru sudah usai.

Masa dimana selalu ada rejeki saat kami benar-benar membutuhkannya. Masa dimana kami harus bangun dari fairy tale kemarin dan menjalani masa pernikahan tahun kedua. Rasanya seperti telah rampung menjalani masa pacaran di tahun pertama; lega, tapi penasaran nantinya akan seperti apa. Wait. Gak seburuk yang dibayangkan, tapi se-menantang itu. Walau sudah pacaran 6 tahun, semua menyesuaikan ulang saat menikah. Tahun pertama adalah baru tahu dia kalau tidur seperti apa, kebiasaan pagi, dan lainnya. Tahun kedua, menjalaninya. Live with it. Merasa sudah tidak pantas disebut manten anyar lagi, sih. Haha~

Awal tahun kemarin juga kami akhirnya lebih telaten mengurus kebutuhan rumah kami.

Ya memang kami masih nomaden, sih. Tapi juga mulai merangkai menyusun apa saja yang dibutuhkan untuk rumah. Memutuskan berinvestasi di kasur baru (ya, rasanya next time saya bisa cerita soal cara kami ‘mengisi’ rumah), membenahi pipa air yang bocor, dan sebagainya.

Menjawab tantangan diri sendiri dengan topik “berapa hargamu?” maksudnya membenahi CV dan melemparnya ke beberapa tempat, melihat hasilnya untuk kemudian belajar sendiri lagi.

Dan yang benar membuat saya tersentak, memperhatikan kesehatan.

Bukan cuma kesehatan sendiri, tapi juga kesehatan orang yang dicinta. Terlalu serius memperhatikan kesehatan sendiri, saya kaget setengah mati ketika dikabari papa masuk UGD. He survived from a sudden heart attack in the middle of driving on a crazy traffic jam at toll road. Dia nyetir sendiri ke UGD rumah sakit, still could manage to call mom and me. Saat itu saya menyadari betapa pentingnya peran saya sebagai anak sulung, 26 tahun, yang sudah dibiasakan mengurus apa-apa sendiri. Saya pulang mendadak dari kantor, di jalan mengurus tiket pesawat mama, sampai rumah nyiapin makan siang untuk adik dan suami, packing baju mama, memandu mama yang pertama kali naik pesawat sendirian, menunggu adik les, dan selanjutnya selama seminggu penuh merasakan repotnya menjadi ibu bekerja dengan anak usia remaja. Ya, sementara mama menunggu papa, saya dan suami mengurus rumah di Jogja, beserta adik yang masih SMP.

Moral of the story?

Stop smoking, luangkan waktu untuk menanyakan kabar keluarga dan orang terdekat, give anything you could give; gak harus berupa materi, tapi perhatian dan dukungan. Short story, papa istirahat full 2 minggu; seminggu terakhir beliau di rumah Jogja, spend time with family. Emang papa beberapa bulan terakhir pengen balik ke Jogja tapi belum sempat. Yaa, kadang memang harus dipaksakan sih. Cerita akhir bulan Januari ini paling menampar banget overall.

Sekarang udah Februari nih, tapi awal-awal bulan ini masih ngerasa kaget-kaget karena ngatur ulang keuangan rumah tangga. After all what happened in January, it’s a little bit shock for us to restart. Hahaha! Aselik apa kata mas Pandji kemarin bener, lebih horror ke ruang administrasi RS daripada ke kamar jenazah. Hmm.

Rasanya kok setiap nulis, isinya penundaan mau nulis apa, gitu. Yuk lah berbenah kalau wiken dibuat produktif di hobi! 😀

Tinggalkan Balasan