Mengambil Langkah Besar: KPR

Sebagian dari teman-teman mungkin sudah tahu perihal program pembangunan 1 juta rumah di Indonesia yang diinisiasi Bapak Presiden Jokowi.
http://www.perumnas.co.id/program-jokowi-bangun-1-juta-rumah-rp-75-triliun-ini-rinciannya/
Lepas dari pro dan kontra perihal program tersebut, saya pribadi tidak ada pikiran apapun untuk membeli rumah di usia 25 tahun ini. Pikiran saya di tahun 2017 lalu hanya satu tujuan: menikah.
Walaupun papa dan mami (ibu mertua) beberapa kali berujar supaya cari tahu tentang program tersebut, saya dan mas berkali-kali juga mengiyakan tanpa bertindak lanjut. Like, please deh, ini ngurusin wedding juga udah ribet banget!
Sementara keluarga saya masih bahagia dengan rumah kontrakan, lain halnya dengan keluarga mas. Adik dan mamanya tetep pengen banget punya rumah sendiri, entah itu dimana, yang penting punya.
Nah, suatu hari, si mami dengar di radio mengenai salah satu developer dari program 1 juta rumah di Yogyakarta. Sambil mencatat alamat developernya, mami gak berhenti minta saya dan si mas ‘mampir’ ke alamat tersebut; cari informasi atau sekedar tanya-tanya lah..
Demi membahagiakan orang tua, saya dan mas datang lah ke alamat tersebut (yang ternyata dekat dengan lokasi kantor kami berdua), dan tanya-tanya lah, dimana lokasinya, tinggal berapa unit, syaratnya apa saja, dan lain sebagainya. Esok hari, kami melaporkan ke ibu jenderal (mami) informasi yang kami dapatkan. Tiga hari setelah itu, kami diminta apply daftar program 1 juta rumah tersebut. Saya panik, karena itu hanya berjarak 2 minggu sebelum pernikahan kami!
Urus punya urus, saya dan mas bahu membahu membagi pikiran; pernikahan dan urusan pembelian rumah. Tak bisa dipungkiri, kami pun akhirnya stress banget. H-1 minggu pernikahan, saya masih bolak-balik mengurus berkas, tapi Alhamdulillah sekarang semua sudah terlalui.
Well, saya jelaskan cara-caranya in a simple way ya..
A. Booking di developer
Tujuan booking ini adalah supaya nama kita tercatat di kantor developer rumah. Tentunya kita harus sudah paham, lokasi dan syarat yang dibutuhkan untuk lebih lanjut.
Saat itu saya dan mas belum tahu persis lokasi, karena kami malas visit site. Padahal hal tersebut penting, lho! Tapi untungnya setelah visit site, lokasi juga disenangi oleh mami mertua. Jadilah mulus.
Booking fee yang dibutuhkan saat itu minimal Rp. 500.000; maksimal Rp. 2.000.000. Gak perlu khawatir, nantinya apabila KPR lolos, booking fee ini akan mengurangi beban DP, kok. Misalnyapun KPR tidak lolos, booking fee ini akan kembali setelah dikurangi biaya administrasi sekitar Rp. 250.000. Tetapi, kalau kamu sendiri yang membatalkan pembelian, booking fee ini tidak dapat dikembalikan sama sekali. So, pastikan kamu memang sudah yakin 100% ya sebelum membayar booking fee ini.
B. Menyiapkan berkas
Tahapan ini yang menurut saya paling menguras energi dan pikiran. Setelah membayar booking fee, pihak developer (normalnya) akan memberikan se-bendel dokumen dan form yang harus diisi.

  1. Form KPR dari bank (berisi data diri dan pasangan)
  2. Form pernyataan gaji (yang harus di tandatangani oleh HRD perusahaan)
  3. Form pernyataan tidak memiliki rumah (disahkan oleh Kelurahan tempat tinggal)
  4. Form pernyataan memiliki gaji tetap
  5. Surat keterangan kerja (dibuat dengan kop perusahaan)
  6. Slip gaji 3 bulan terakhir (apabila sudah menikah, sertakan juga punya pasangan)
  7. Fotocopy KTP Suami Istri
  8. Fotocopy Kartu Keluarga
  9. Fotocopy rekening Koran/buku tabungan Suami Istri
  10. Fotocopy NPWP dan SPT Terakhir
  11. Pas foto 3×4
  12. Fotocopy buku nikah

Dokumen tersebut dilengkapi dan dibawakan ke developer untuk diverifikasi oleh mereka. Sebenarnya ada 2 opsi untuk pendaftaran KPR ini, single atau double. Maksudnya adalah, apakah akan mendaftar atas nama sendiri dan dengan status belum menikah, atau status sudah menikah.
Kemarin, banyak pihak menyayangkan saya mendaftar dengan status sudah menikah, padahal KTP dan KK saya belum diperbarui. Buku nikah-pun belum didapat pada saat membayar booking fee. Tapi saya merasa lebih secure mendaftar dengan status sudah menikah.
Menurut saya tahapan ini dirasa ribet, karena saya harus bolak-balik ke kantor developer untuk melengkapi berkas. Saya bolak-balik karena ada berkas yang belum lengkap, tapi untungnya pihak developer memperbolehkan mencicil persyaratan berkas ini.
C. Wawancara dengan bank
Setelah berkas terkumpul semua dan terverifikasi oleh developer, berkas nantinya dikembalikan ke pemohon lagi, untuk dibawa ke bank dalam rangka acara wawancara. Ada dokumen tambahan dari developer seperti surat penawaran dan bukti verified tentang syarat yang dibutuhkan.
Saat itu, saya hanya memberi jarak 2 hari sebelum wawancara. Sekitar hari Rabu berkas verified dikembalikan ke saya, dan hari Jumat saya dan mas ke bank untuk wawancara. Karena ada bank yang mendukung program 1 juta rumah tersebut, saya ke bank rujukan dari developer.
Saat wawancara ini, intinya hanya menyamakan jawaban antara apa yang kami tulis di berkas, dan apa yang kami ucapkan secara lisan. Jangan lupa belajar dulu ya, supaya gak terlihat gak tahu apa-apa dan lancar saat menjawab pertanyaan.
Pertanyaan pamungkasnya kurang lebihnya adalah:

  1. Berapa pendapatan bersih yang diterimakan setiap bulan?
  2. Berapa pengeluaran standard an konstan setiap bulannya?
  3. Kemampuan mencicil berapa?
  4. Sistem gaji didapatkan via apa?
  5. Sudah pernah memiliki rumah sebelumnya?

Ada ice breaker question beberapa, seperti kenapa saya memutuskan memiliki rumah? Dan di waktu pernikahan yang baru hitungan minggu?
Setelah itu, pihak bank mengecek ulang mengenai syarat yang sudah kami bawa. Apabila ada kekurangan syarat, boleh kok menyusulkan langsung ke bank di kemudian hari. Berkas dikumpulkan di bank, kami pulang sambil menunggu jawaban dari bank.
D. Pembayaran Awal
Berkas dinyatakan lolos setelah sekitar 17 hari kami menunggu. Lama? Lumayan, tapi buat saya lumayan untuk bernafas lega setelah sebelumnya bolak-balik izin kantor ambil cuti demi mengurus KPR ini.
Developer yang menghubungi saya mengabarkan bahwa berkas saya dan permohonan KPR disetujui, dan saya diminta datang ke kantor developer untuk dijelaskan langkah selanjutnya.
Di kantor developer, kita akan menerima SP3. Tenang, ini bukan Surat Peringatan pangkat 3 dari HRD kok. SP3 ini intinya menyatakan kesanggupan bank membantu kita untuk pembiayaan rumah. Developer juga menjelaskan dengan rinci, berapa besaran DP yang harus kita bayar, biaya-biaya lain (notaris, administrasi) yang timbul, besaran angka kredit yang dikabulkan oleh bank, besaran cicilan yang harus kami bayar, dan lainnya.
Kami diberi waktu 2 minggu untuk membayar DP dan biaya lain-lain tersebut. Pembayaran itu dibayarkan di kantor developer, sedangkan cicilan pertama dibayarkan di bank sebelum Akad Kredit. (plays Payung Teduh – Akad’s song)
Setelah 10 hari, saya dan mas datang lagi ke kantor developer untuk melakukan pembayaran awal, dan diberikan tanggal untuk Akad Kredit di bank sekitar 1 minggu setelahnya.
E. Akad Kredit
(still enjoying Payung Teduh – Akad)
Tapi bener ya, kalau kamu pikir Akad Kredit itu sama dramanya sama Akad Nikah, nope you doin it wrong! Awalnya kan saya pikir sakral syahdu gitu, ternyata tanda tangan banyak banget sampai pegel!
Datang ke bank jam 10 pagi, diawali dengan buka rekening bank dulu (ke Customer Service, bilang mau buka rekening baru untuk tujuan pembiayaan/kredit, isi-isi formulir lagi, selesai, antre ke Teller, masukkan uang setoran awal sejumlah pembayaran awal ke bank plus dilebihin dikit untuk saldo mengendap) baru tunggu nama dipanggil untuk proses Akad.
Eh sebelum ke Akad, ternyata kita harus tanda tangan dokumen sama notaris dulu, Dokumen yang ditandatangani adalah Serifikat Hak Guna bangunan. Setelah nanti lunas, Setifikat tersebut ditukar ke BPN menjadi Sertifikat Hak Milik. Selesai, baru kita ke pihak bank.
Kali ini tanda tangan super banyak di dokumen nota kesepahaman antara pihak bank dengan pemohon (kita). Penting buat kamu untuk baca dengan cermat dan teliti apa yang tertulis di dokumen tersebut. Informasi pentingnya, tenor pinjaman berapa lama, berapa besaran angsuran yang harus dibayarkan setiap bulannya, apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan pada rumah tersebut, kapan boleh renovasi, dan lain sebagainya.
Selesai, tahap selanjutnya kita mengganti meterai yg dipakai oleh bank dan notaris. That’s why persiapan sebelum akad juga kamu wajib membawa banyak meterai. Serius banyak, karena di kasus saya, menghabiskan 20 buah meterai!
F. Serah Terima Kunci
Selesai dari bank, saya langsung ngacir ke warteg kantor developer, untuk serah terima kunci. Berkas dari bank ada yang dibawa juga, dan dengan ini, SAH lah sudah kamu punya rumah! 😀
Lain-lain pengingat:

  • Di perumahan yang merupakan program subsidi dari pemerintah, janganlah berharap yang muluk-muluk, bayangkanlah perumahan standar, Alhamdulillah ada 2 kamar tidur.
  • Di rumah kamu nanti, akan dipasang plat penanda bahwa rumahmu adalah rumah subsidi pemerintah. Boleh dicopot saat sudah lunas, so sabar ya..
  • Karena ini program pemerintah agar warga negaranya memiliki hunian yang layak, menurut saya sangat tidak bijaksana apabila kamu menjualbelikan rumah ini, atau dijadikan ladang investasi (kontrakan, kost, asrama, dll)
  • Bank akan memverifikasi juga ‘kebersihan’ namamu, jadi kalau kamu sebelumnya pernah ada kasus kredit macet, hati-hati, mungkin bank bisa menurunkan nilai angka pinjamanmu.
  • Khusus rumah subsidi ini, sepertinya lebih mudah apply apabila ini adalah rumah pertamamu. Kasus teman saya yang sebelumnya sudah pernah beli rumah dengan KPR, langkahnya sedikit ditambah.
  • Jangan lupa tanyakan fasilitas lain ke developer; seperti jalan depan rumah, siapa yang membangun, tentang septic tank, resapan air, dan lain sebagainya. Dalam kasus saya, developer memiliki garansi 100 hari untuk kerusakan pembangunan. So, dalam 100 hari itu, ada baiknya kamu cek ricek apa saja yang rusak di rumahmu, dan jangan melakukan pembangunan apapun, atau garansimu akan hangus.
  • Dalam kurun waktu 5 tahun awal, jangan dulu merubah struktur bangunan rumah. Jangan meningkat bangunan, maupun membangun diluar area rumah. Informasi dari bank, karena mengubah struktur sama dengan tidak mengindahkan sertifikat hak guna bangunan.

Selamat mengurus rumah baru! Pindahan, setting, dan lainnya tentunya akan menjadi hal yang baru dan menyenangkan (sekaligus melelahkan) untuk kamu! 🙂 Semoga sukses!

4 Replies to “Mengambil Langkah Besar: KPR”

  1. Waaaw soo informative! Jadiii skrg udah fix dapet rumah kpr cip?

  2. […] hari saya sudah pernah berbagi cerita tentang KPR; kali ini saya mau kasih informasi tambahan yang masih berkaitan dengan […]

  3. […] mandiri. Pengen merasakan tinggal berdua dengan istri, dan lainnya. Well, some of you might think: lah kan udah urus KPR? Ada rumah dong? Iya, tapi ada satu dan sekian hal yang membuat kami belum bisa menempati rumah itu. Salah sekian […]

  4. […] pas-pasan namun tanpa hutang akan jauh lebih nyaman. Tentunya jangan langsung dibuat bayar lunas KPR, karena akan kurang! […]

Tinggalkan Balasan