Membuka Rejeki, Is It?

accounting-budget-calculate-3305 (Copy)

“Menikahlah, jangan takut.”

Begitu sering mendengar saran tersebut ketika sudah memasuki tahun ke-lima di masa pacaran lalu.

Sering merasa ragu ingin melangkah karena merasa kebutuhan sehari-hari saja masih banyak kurangnya. Belum bisa menyenangkan orang tua, belum bisa liburan kemana-mana, apalagi membayangkan harga dan biaya pernikahan yang memasuki 8 digit.

Nyatanya, perkara siap atau gak siap itu kembali ke individu masing-masing, dan ya.. manusia gak akan pernah siap ketika belum dilakukan.

Seorang teman pernah bercerita supaya jangan takut dan ragu kalau mau menikah. Karena sesungguhnya pernikahan itu akan membuka pintu rejeki.

Hmm, kalau dipikir benar juga sih, tapi..

Photo by Min An from Pexels
Photo by Min An from Pexels

Rasanya kok terlalu naif kalau keinginan menikah hanya semata-mata dipakai untuk menambah rejeki. Secara logika, ketika memutuskan menikah (dan posisi kedua belah pihak sama-sama memiliki penghasilan tetap), memang pemasukan akan bertambah ekstra di setiap bulannya. Akan tetapi, jujur deh, yang saat ini masih single dan memiliki penghasilan tetap, sudahkah merasa good financial healthy?

Dulu, saya sih jujur merasa belum. Lantas, misalkan kedua belah pihak belum merasa cukup secara finansial, walaupun pemasukan bisa digabungkan, logikanya apakah akan mencukupi untuk membangun keluarga? Rasanya kok sulit. Pikiran itu pula yang saya sering pertanyakan sebelum akhirnya mantap menikah. Membayangkan dua insan yang sama-sama masih belajar mengatur keuangan pribadi, tetapi harus sudah bisa mengatur keuangan keluarga.

Sure there is many resources to learn. The question is, will it be used?

Banyak cara untuk belajar mengelola keuangan pribadi maupun keuangan keluarga. Dari mulai free materi di internet, mengikuti saran dari expert, maupun mengambil kursus atau kelas financial planner. Tapi, apakah nantinya akan dipakai semua pelajaran itu? Apakah kita dapat mengingat materi-materi tersebut nantinya?

Memasuki usia ke sembilan bulan pernikahan ini, pertanyaan dan keraguan saya diatas tadi perlahan terjawab. Yang paling klise tapi nyatanya benar adalah,

uniknya, menikah ternyata benar membukakan pintu rejeki tersendiri.

Kami tidak terlahir dari keluarga yang kaya raya sedari kecil. Tidak pula dibesarkan di keluarga yang berlimpah materi. Justru, saya dan mas belajar banyak tentang keuangan keluarga, dari kegagalan maupun kekeliruan pengelolaan keuangan keluarga di keluarga kami masing-masing.

Ketika kami memutuskan menikah, indeed, banyak godaan untuk menggunakan yang lebih dari apa yang kami inginkan.

Godaan untuk menggunakan vendor dan venue pernikahan yang lebih mahal, godaan untuk bisa melakukan honeymoon di tempat yang bagus dan mahal, dan lainnya.

Tutup mata, tetap melangkah bersama di jalan setapak yang sudah ditentukan. Lepas menikah, masih ada sejuta tantangan yang membentang. Memilih tinggal dimana, memutuskan untuk membeli rumah atau tidak, dan lainnya. Tentu, jangan lupa bahwa kami juga harus memikirkan uang bensin, pemeliharaan kendaraan, dan uang makan setiap bulannya.

Berat? Iya, rasanya setiap menjelang gajian, senang pasti, tapi selalu ada rasa deg-deg, takut akan ada anggaran yang membengkak. Tapi, entah mengapa, selalu juga ada tambahan pemasukan dari yang tak terduga setiap bulannya. Kami selalu menganggap itu berkah atau mungkin ya memang buah dari apa yang kami pikirkan. Dari apa yang kami khawatirkan bersama.

accounting-bill-black-53621 (Copy)

Tentunya, selalu ada hak orang lain yang ikut masuk kedalam apa yang kita terima. Tambahan pemasukan yang kami rasakan itu, membuat kami terus mengingat bahwa kami harus bersedekah. HARUS. Entah walaupun kami sampai di titik bingung mau makan apa besok, tapi sedekah harus tetap keluar.

Nyatanya (dan rasanya), perkataan orang benar adanya. Rejeki itu gak akan cukup kalau kita hitung-hitung, karena pada dasarnya manusia akan selalu merasa tak puas. Pun jika dilogika, rasanya lucu kami dulu meragukan tentang rejeki.

Tak perlu lah sepertinya menggunakan tolak ukur “sudah punya barang branded apa” atau “sudah travelling kemana saja” untuk menggambarkan besar kecil rejeki yang didapat. Toh rejeki bukan hanya sekedar materi, bersyukurlah. Cukup dengan mengetahui hari ini sehat, bisa makan, bisa dengar kabar keluarga sehat semua, dan bisa melalui seharian ini dengan bahagia, ah.. that’s truly rejeki.

2 Replies to “Membuka Rejeki, Is It?”

    1. Haiii Aryaaaa
      InsyaAllah disegerakan dan dimudahkan yaaa 🙂

Tinggalkan Balasan