Mengurus Paspor di Imigrasi Yogyakarta – Perdana!

Hari gini 2020 belum punya paspor? Well, understanding-able sih..

Terkadang memang kita belum sebutuh itu dengan paspor. Daripada sudah buat tapi lima tahun tidak terpakai, mending buat saat dibutuhkan. Tapi juga malah ada yang menjadikan buat paspor sebagai motivasi agar bisa menabung lebih giat untuk travelling ke luar negeri. Apapun alasanmu, semoga postingan ini membantu kamu untuk ngerti banget tentang cara buat paspor ya!

Disclaimer: Data yang saya kumpulkan dan saya ceritakan adalah valid saat pembuatan paspor di awal Desember 2019. Semisal ada perubahan syarat dan ketentuan apapun setelah itu, mohon dimaklumi.

Jadi ceritanya ini bukan saya yang akan membuat paspor, tapi mama. Saya bantu untuk mengurus perdokumentasiannya serta bagian antar mengantar saja. Yha namanya juga anak pertama gini ya.. Semua bermula saat mama diajak umroh; syarat utama selain pembayaran, pastinya paspor lah ya. Jadilah mama mengontak saya untuk minta diantar membuat paspor. Saya yang memang anaknya gampang excited dan kepo, langsung mencari informasi mengenai cara dan syarat pembuatan paspor di Imigrasi Yogyakarta.

Syaratnya standar sih:

  • KTP
  • Akta lahir
  • Ijazah terakhir
  • Kartu Keluarga
  • Buku Nikah

Kesemuanya di fotocopy kira-kira masing-masing 3 (tiga) salinan. Misalnya ada yang tidak terpakai, syukur. Tapi kami mempersiapkan semua untuk jaga-jaga. Penting diingat bahwa dokumen aslinya pun harus dibawa ya. Plus, siapkan map (untuk bawa dokumen), uang pembayaran pembuatan paspor (berdasarkan keperluan jenis paspornya), serta meterai 6000 sekitar 2 buah.

Intinya adalah sebenarnya menyamakan data yang ada di induk kependudukan dengan data diri yang kita miliki. Sehingga semisal data sudah akurat dan sama antara KTP-KK & Ijazah terakhir, sudah bisa lanjut.

Well, ini baru persiapan dokumen – belum persiapan ambil antrean paspor yang ternyata dilakukan secara…online. Nah disinilah kesabaran kita teruji (serta ketepatan pengambilan menggunakan smartphone).

Pertama-tama, saya download dan install aplikasi Imigrasi Online di App Store (iOS). Di android juga ada. Setelah itu saya melakukan proses registrasi (atas nama saya sendiri, dengan data saya yang benar). Lalu saya ke twitternya ditjen imigrasi jogja dan mencari tahu kapan antrean online ini dibuka. Ternyata untuk Imigrasi Jogja, layanan antrean online dibuka setiap hari Jumat jam 14.00-habis. Setelah mengetahui hal tersebut, selanjutnya saya pergi ke youtube untuk melihat tutorial pendaftaran antrean online. Soalnya, ketika pintu antrean online belum dibuka, kita tidak bisa paham menu yang ada di dalamnya. Setelah ditonton, paham, menunggu lah hari Jumat.

Hari Jumat tiba, dan di hari serta jam 14.00 WIB tersebut, sebenarnya saya ada meeting penting di kantor. Was-was, saya buatkan tutorial singkat yang saya berikan ke rekan satu kantor yang tidak ikut meeting. Smartphone juga saya serahkan ke dia; intinya supaya dia bisa bantu saya mendaftar antrean online. Bersyukur saat jam 13.50 WIB, bos memundurkan meeting di jam 15.00 WIB, dimana berarti saya bisa mendaftar antrean terlebih dahulu. Saat jam 14.00 WIB tengg, saya langsung sibuk mendaftar.

visualisasi barcode paspor

Ternyata server sempat crash; mengakibatkan pendaftaran jadi tersendat.

Ajaibnya, saat saya ke kamar mandi kantor sambil bawa smartphone dan terus mencoba menyeruak masuk ke antrean online, berhasil! Tapi… ternyata saya sendiri (selaku nama yang terdaftar dalam aplikasi) juga harus ikut ke daftar antrean online. Jadi sistem antrean online ini sepertinya dibuat untuk meminimalisir calo-calo yang dulunya banyak marak. Nama, NIK, alamat email yang sudah pernah didaftarkan ke aplikasi Imigrasi bersifat unik dan tidak bisa dipakai untuk mendaftar lagi di kemudian hari (maupun berganti smartphone). Maksudnya, saat saya mendaftarkan Nama, NIK, dengan berbeda alamat email untuk mama saya (tapi di aplikasi yang sama di smartphone saya), sistem aplikasi mendetect bahwa smartphone saya sudah pernah untuk pendaftaran akun saya. Dan untuk meng-antre-kan orang lain (contohnya saya menggunakan akun saya dari smartphone saya untuk mengantrekan mama saya), juga harus ada hubungan darah (dalam 1 KK). Tidak bisa akun saya untuk mengantrekan tetangga saya misalnya, atau tante yang tidak 1 KK. Serta apabila ingin mendaftar antrean online kembali, baru boleh setelah satu bulan berselang dengan pendaftaran sebelumnya. WOW. Sungguh cara yang pas untuk menghalau calo-calo.

Pendaftaran berhasil, nomor antrean didapat (dalam bentuk barcode QR jadi enaknya di screen capture/minta salinan dalam bentuk PDF), sekarang saya bingung apakah saya juga harus membuat paspor? Karena saya juga dapat nomor antrean. Tanpa pikir panjang, saya siapkan saja berkas saya dan uang sekalian. Semisal diharuskan membuat, ya sudah pasrah saja. Saya memilih hari Rabu di jam pagi (fyi, ada jam pagi dan jam siang) di Kantor Imigrasi Kelas I Yogyakarta yang letaknya di sebelah bandara Adi Sucipto. Untuk daerah Yogyakarta sendiri, sebenarnya terdapat beberapa pilihan kantor; Bantul ada, Kulon Progo juga ada. Tapi saya malas ambil pusing sehingga langsung saja di pusatnya.

imigrasi yogyakarta

Hari Rabu tiba, saya dan mama berangkat jam 06.30 WIB dari rumah yang berada di ujung barat kota Yogyakarta ke bandara yang mana di ujung timur kota Yogyakarta.

Malang melintang kami hadapi, santai tapi pasti membawa berkas yang dibutuhkan. Kantor Imigrasinya sendiri buka pukul 07.00 WIB, kami dipersilahkan masuk dan menunggu. Ternyata, banyak juga orang tua usia 60-70 tahun yang kebingungan mendaftar antrean online. Bahkan, beberapa dari mereka tidak familiar dengan smartphone, aplikasi, apalagi email. Kasihan melihatnya, tapi untungnya petugas Imigrasi tetap berusaha dengan sabar membantu. Banyak juga yang datang tanpa membawa barcode alias belum mendaftar antrean sama sekali, tetap dibantu dan sistem antrean online dibuka dadakan pada jam 08.00 WIB – habis kuota, untuk pendaftaran hari lain. Jadi yang sudah datang tapi belum dapat barcode, harus mendaftar lagi disitu dan pulang untuk kemudian datang pada hari berikutnya.

Bagi yang sudah memiliki barcode, jam 07.45 WIB diminta mengisi biodata di form yang telah disediakan, serta ada dokumen yang harus ditandatangan basah di atas meterai menerangkan bahwa data yang diberikan merupakan valid. Oya, perlu diingat bahwa harus menggunakan bolpoin berwarnaย hitam. Karena dokumen saya dikembalikan dengan alasan tinta bolpoinnya biru ๐Ÿ™ Di petugas yang sama, saya juga menanyakan apakah wajib hukumnya saya membuat paspor juga; ternyata tidak perlu. Jadilah yang membuat paspor hanya mama saja; anaknya menabung dulu. Setelah biodata dikumpulkan, dijadikan satu dengan berkas yang dibawa, dapat lagi nomor antrean pengecekan dokumen. Mama dapat nomor urut 3; cukup awal didukung dengan ketepatan waktu sampai tempat, kelengkapan berkas, dan kecepatan pengisian biodata (imma proud daughter!).

Nah, di konter pengecekan dokumen, baru terlihat bahwa ternyata KTP harus difotokopi bersebelahan sisi depan belakangnya. Sebelumnya fotocopy KTPnya mama bolak balik. Terpaksa mama turun ke koperasi di lantai 1 kantor imigrasi untuk fotocopy ulang KTPnya ๐Ÿ˜€ Setelah dokumen lengkap, kami dapat nomor antrean lagi untuk foto dan wawancara di ruangan yang berbeda. Kali ini karena tadi harus fotocopy ulang, mama dapat nomor urut 6.

Sekadar intermeso, kantor imigrasi kelas I ini cukup lengkap pelayanannya.

Ada playground untuk anak-anak daripada gak betah menunggu orang tuanya. Ada snack free dan minuman juga, supaya tetap nyaman. Pendingin ruangannya juga nyaman dan ruangannya wangi segar gak banyak bau keringat. Petugasnya ramah, informatif, dan tepat waktu. Di koperasinya ada ayanan fotocopy, jual alat tulis, serta meterai. Jadi kalau ternyata ada yang tertinggal, bisa lah ya beli dadakan.

Di konter wawancara dan foto paspor, ketemu lagi satu hal yang sempat buat kami deg-deg-an. Tempat lahir mama ternyata yang tertulis di Ijazah berbeda dengan yang tertulis di KTP. Petugas menyarankan untuk mengubah KTP terlebih dahulu; atau mengganti dokumen ijazah dengan dokumen lain yang sesuai. Untungnya karena kami bawa semua dokumen, diganti lah antara Ijazah degan Buku Nikah. Fyuhh, masalah selesai. Wawancaranya juga hanya sekadar ditanyakan keperluan pembuatan paspor untuk apa, kapan, dan kemana perginya. Setelahnya, kami mendapat bukti kwitansi yang harus dibayarkan ke loket pembayaran. Bisa dibayarkan dari bank ataupun dari loket kantor pos. Masa berlaku pembayaran itu adalah 3 (tiga) hari kerja, dan paspor fisik bisa diambil 3(tiga) hari kerja setelah pembayaran selesai.

Kami keluar kantor imigrasi, sambil bertanya ke satpam dimanakah kantor pos terdekat.

Ternyata, jam 09.00 WIB akan ada mobil pos yang ‘mangkal’ di kantor imigrasi. Karena waktu menunjukkan pukul 08.45 WIB, kami putuskan untuk menunggu mobil pos sambil…..selfie. Bahkan satpamnnya juga mau membantu proses selfie ๐Ÿ˜€ Tepat pukul 09.00 WIB, mobil pos datang dan kami antrean pertama untuk pembayarannya. Mama membuat paspor biasa 48 halaman dengan biaya 350.000. Dapat tanda jadi bayar, paspor bisa diambil tiga hari kerja kemudian; yang akhirnya diambil oleh mama di hari Senin pagi. Oya, untuk lamanya pembuatan paspor, bergantung ke kondisi ramai atau tidaknya tiap-tiap kantor imigrasi ya. Jadi gak bisa disamaratakan. Sebagai contoh, setelah mama ambil paspornya, ada pengumuman bahwa pembuatan paspor selanjutnya akan selesai di 5 hari kerja karena sedang ramai (musim liburan mungkin). Dan kuota pendaftaran per hari berapa? Sekitar 30 di pagi, 30 lagi di siang.

Paspor jadi, mama mengurus hal lain (suntik meningitis), pendaftaran ke biro umroh, serta manasik dan persiapan lainnya.

Lumayan singkat, bukan? Bisa juga dan akan saya jadikan referensi di kemudian hari ketika saya ingin membuat paspor (psssttt, that’s one of me and hubby’s resolution for 2020!) ๐Ÿ˜€ Selamat berjuang membuat paspor, semoga lancar perjalanannya!

 

Tinggalkan Balasan