Post-Meeting Syndrome

Ketika bekerja dan dipanggil untuk meeting, hal apa yang dibawa langsung?
– notebook&pulpen kesayangan
– smartphone
 
Dan saat meeting, apa yang kamu lakukan?
– menyimak yang sedang bicara
– mencatat hal penting
– berdiskusi untuk mencapai mufakat
 
Setelah selesai meeting, apa yang kamu pikirkan?
– hasil meeting yang akhirnya langsung dikerjakan
– jokes atau pesan penting, selain kerjaan
– sudah jam berapa ini?

Hal yang saya rasa tidak berubah dari kebiasaan saya, adalah mencatat.
Menyadari sifat mendadak lupa akan tugas-tugas saya, saya selalu membiasakan reflek mencatat hal-hal yang dibahas saat meeting, penting atau tidak 😀
 
Uniknya, kalau saya perhatikan ditengah meeting dengan menejemen, mereka selalu menyisipkan dengan cerita dan kisah tentang kehidupan.
Perjuangan hidup, cara berkompetisi atau bertahan, tips dan trik membuka usaha, dan sebagainya.
Dan hal tersebut, tetap tidak luput dari tulisan saya. Malah, seringnya hal tersebut lebih diingat kuat oleh saya, dibanding pekerjaan 😛
 
Hari ini saya meeting cukup lama, dan ditengah hawa sejuk dari pendingin ruangan, tak ayal kami (peserta meeting) mengantuk berjamaah.
Sampai sore tadi, saya baru mencatat hal penting; apalagi kalau bukan soal bab kehidupan ala bapak komisaris.
 
Jujur, sekitar setengah tahun saya bekerja di tempat baru ini, saya merasa belum begitu mengenal sifat pak komisaris. Jadilah saya menilai dari apa yang saya lihat saja.
Tapi sore tadi, saya akhirnya baru mengenal bapak. Appearently, I was wrong about him.
 
Memiliki atasan langsung yang berkebangsaan luar, membuat saya seringnya langsung berpikir cepat menilai bahwa mereka terbiasa hidup mewah, galak, disiplin sangat, dan memandang sebelah mata tentang potensi generasi negara ini.
 
Ternyata bapak sangat sederhana, walaupun perfeksionis. The highlight is, uang bukan segalanya bagi beliau.
Penjabarannya tentang bagaimana kita harus menjalani kehidupan, menyadarkan saya.
Caranya untuk tetap mengingatkan kami agar selalu menjadi padi yang menunduk walau semakin tinggi, membukakan mata saya yang tadinya sudah mengantuk.
Saya baru menyadari; saya masih harus banyak belajar.

Saya mungkin berpengalaman, tapi bukan yang paling hebat.
Saya mungkin berani, tapi berani saja tidak cukup untuk bertahan hidup.

 
Kata-kata bapak menyadarkan saya, saya harus terus belajar. Menggali ilmu, harus selalu haus akan pengetahuan.
Bapak pun masih banyak belajar, untuk apa saya harus berhenti?
 
Di hari buku nasional ini saya sadar, saya harus segera membeli buku baru; untuk belajar lebih lanjut tentang pekerjaan saya, karena saya bukan siapa-siapa untuk kantor, apalagi untuk negara dan dunia.
 
Selamat hari buku nasional, kawan!
Sudah baca berapa buku bulan ini? 🙂

Books_out_of_this_world

a wife, Mon-Sat office worker.
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *