where is the privacy?

belakangan saya lagi penasaran dengan dunia per-consent-an.

dikelilingi dengan teman-teman yang dengan mudahnya upload momen bersama keluarga (including me, yes) atau kawan yang baru saja punya anak dan ingin membuat media sosialnya menjadi album online, apalagi dengan istilah detektif selebriti/paparazzi selebriti yang sekarang setiap orang bisa saja melakukan itu, membuat saya cringe.

sementara saya tahu, di luar sana ada aturan untuk taking photo dan upload on a social media.

I don’t mean to judge, who am I judging netizen?

well, at least saya berusaha sharing dan membuka diskusi bersama mengenai apa yang menjadi hak kita ketika berurusan dengan foto diri dan sosial media, sekalian belajar dari excerpts artikel yang saya baca.
there are three main concerns about this:

first, do we need people consent before upload their photo in internet?
the answer is, yes; depend on its purpose. kembali ke tujuan awal kita mengambil foto itu dan tujuan kita menguploadnya.

setiap orang punya hak yang sama untuk menolak ataupun mengizinkan fotonya diambil dan disebarluaskan. misalkan memang untuk keperluan professional dan komersial (iklan) juga kita perlu izin pastinya.

ambilah kasus antara Justin Bieber dengan Kemal Palevi yang beberapa lalu sempat ramai dibicarakan. Justin Bieber adalah salah satu dari beberapa selebriti yang menolak diajak foto bareng oleh fansnya. buat tahu siapa lagi seleb yang bakalan susah ataupun menolak diajak selfie? click this 😉

why? karena dia (mereka) gak mau diganggu privasinya, termasuk mengantisipasi salahguna foto tersebut nantinya. salahguna tersebut termasuk mengkomersialkan foto selebriti tersebut ya..

lantas kalau kita lagi wefie bareng temen, dan menguploadnya?

sebenarnya selayaknya kita izin dulu dengan yang bersangkutan; karena bukan tidak mungkin mereka tidak berkenan dishare fotonya (gayanya gak bagus, sedang tidak siap difoto, dan lainnya). kalau kita tetap pengen upload? tutupi pakai sticker atau dicrop sekalian 😀 tentunya setelah izin ya..

berpikir kalau hal ini ribet? yha kalau mau tertib sih enaknya begitu 😉
kedua, do we need people’s consent if the people unintentionally in picture?

no. again, ini kalau gak sengaja si orang tersebut terjepret kamera ya. tapi sebelum upload/share, baiknya dilihat baik-baik apakah orang yang terjepret tersebut sedang dalam pose/gaya/berpenampilan yang layak?

kalau amannya, again, ditutupi stiker/dicrop. mana tahu dia sebenarnya tidak ingin disebarluaskan.

pernah ada kasus seleb yang dituntut karena secara tidak sengaja mengupload foto yang didalamnya ada gambar seorang wanita, dan banjir komentar shaming terhadap wanita tersebut. ataupun seorang seleb yang tidak sengaja membuat joke tentang foto seseorang dan diupload; walaupun sudah izin tapi tetap kena kasus pencemaran nama baik.

yang terakhir dan jadi highlight saya di postingan ini; is it okay if we upload picture of children?

jawabannya tergantung. pada dasarnya, semua manusia (anak-anak dan balita pun termasuk); memiliki hak untuk tidak dipublikasikan gambarnya. serius? iya.

beberapa negara memiliki kebijakan tidak tertulis tentang mengambil gambar anak-anak dan balita.

ada kasus yang pernah saya baca, seorang anak di Amerika Serikat pulang sekolah marah ke ibu kandungnya karena dia dibully di sekolahnya. lha kenapa ibunya? teman-teman anak itu membully karena melihat foto masa kecil anak tersebut, di laman facebook ibunya.

yep. you read it right. ever thought how embarassing us when we were kid? imagine how if your mom snap a silly picture of you, posted it online so your friends can see? kemarin saya sempat kaget banget saat lihat teman saya memposting video anak balitanya yang sedang mandi 🙁 walaupun postingan tersebut akan hilang dalam waktu 24jam, tapi bayangkan berapa banyak khalayak yang sempat menyimpan video tersebut? membayangkan tentang kekerasan seksual/kasus pedofilia saja membuat saya bergidik.

mungkin ada yang membatin “halah, siapa sih kita, seleb juga bukan”
but hey, seleb atau bukan, pecurian foto balita dan pengunggahan ulang di situs pornografi anak, gak musti anak seleb lho..

by picture, we basically give figure about ages, gender, and people around the child. and by names/caption, location, where the kid go to school, make the criminal easier to find the kid.

yang gampang dicermati, mungkin beberapa waktu lalu sempat ramai dibicarakan kenapa Dian Sastro, Anggun C Sasmi, dan seleb internasional lainnya selalu tutup muka anaknya pakai sticker. se-simpel mereka menjaga privasi anaknya; dan memilih untuk nantinya menanyakan ke anaknya apakah mereka mau diposting fotonya, ketika berusia 18tahun.

the choice is yours; toh banyak juga yang berani posting foto anaknya dan that’s okay. tapi mungkin bisa dipertimbangkan untuk menjaga privasi sang anak juga sih 🙂 atau sekali dua kali kalau saatnya tepat, boleh lah.. tapi kalau setiap hari bahkan sampai saat anaknya mandi, waduh 🙁

lantas baiknya gimana kalau pengen share foto sepupu/keponakan yang lucu bangets? tanya/minta izin ke orang tua mereka, atau kalau memang anak sudah mengerti, langsung tanya “are you happy with your picture here?” if they said yes, ya monggo..

diatas pertanyaan dan pernyataan yang saya sampaikan, setiap media sosial memiliki terms&conditions masing-masing. dan kalau kita gak malas baca setiap kalimatnya, mungkin kita bisa menemukan pernyataan dimana ketika kita mengupload foto, maka kita menyerahkan hak atas foto tersebut ke pihak developer media sosial. gak salah juga semisal mereka menggunakan foto kita sebagai iklan sosial media tersebut.

biasanya kita (yes including me) simply clicked yes accept terms & condition. jadi filternya dimana? di tangan kita sendiri, dong! 😀
if we already prepare our self with the privacy and then the socmed who misused it, what can we do?

a wife, Mon-Sat office worker.
1 comment
  1. […] Saya sudah pernah bahas soal consent di dunia maya. Di social media. Silahkan dilihat postingannya d…. Lha malah promosi, dan tidak bermutu pula! Hahaha […]

Menurut kamu?