and the reason is YOU

Di twitter lagi ramai ngobrolin Labschool. Sebuah sekolah yang sedari beberapa tahun yang lalu, dianggap WAH banget. Tiba-tiba saya teringat kalau saya pernah hampir bersekolah disana.

Di keluarga saya, bersekolah di Labschool merupakan salah satu pencapaian bagus.

Pencapaian keren lah, ceritanya. Kakak sepupu saya yang terpaut 7 tahun lebih tua dari saya, pernah berusaha masuk ke Labs. Dan dia gagal; kurang tahu penyebabnya apa. Lalu saatnya saya mau masuk SMP, mama mencoba peruntungan saya untuk daftar dan tes di Labs. Saya yang belum tahu banyak hal, manut saja. Padahal, saya dulu rumah di Bekasi Timur, kalau dilakoni sekolah di Labs Rawamangun, bisa kurus saya!

Motivasi mama dalam mendaftarkan saya ke Labs juga ditambah support dari beberapa orang tua murid; mamanya teman-teman saya. Saya, tambah semangat karena sang cinta monyet saya juga daftar Labs. Kebetulan, kami memang teman dekat. Sering ngobrol bareng, jadi rasanya saya membayangkan akan bahagia kalau bisa lanjut SMP bareng lagi.

Saat ujian masuk, saat hari pertama saya mens juga. Yup, I got my very first period since I was 6th grade. Asli, saya dismenor se-sakit sakitnya sakit. Pokoknya lupa semua hal yang sudah dipelajari. Blank. Mana materi yang diujikan jauh dari apa yang saya pelajari di sekolah, pula. Dan kali itu juga perdana saya mengerjakan ujian pakai Lembar Jawab Komputer. Gak pernah ada sosialisasinya sama sekali. Bingung, sakit, blank. Saat itu yang terlintas di pikiran saya cuma, “saya pengen pulang. Biar lah gak usah sekolah disini”.

Pengumuman ujian, saya ternyata masuk peringkat cadangan; sementara sang CiMon masuk dengan mulusnya. Yha, dia sih pinter 😀 Mama aktif menanyakan apakah saya masih ada kans untuk masuk Labs; ada, tapi harus nunggu. Plus biaya masuknya tergolong mahal untuk tahun 2004 itu. Saya sih pasrah dan bodo amat; lama-lama saya mikir, apa saya bisa berangkat pulang Bekasi Timur-Rawamangun setiap pagi sore? All by myself? Pun apakah orang tua saya sanggup membayar biaya mahal selama tiga tahun sekolah? Hanya demi, keinginan keluarga. Hanya demi, saya pengen satu sekolah lagi sama CiMon. (Lah nyatanya juga kami gak jodoh :P) Sudah lah, perjalanan SMP saya akhirnya di sekolah cadangan.

Fast forward ke saat serupa waktu mau masuk kuliah.

SMA kelas 9, sempat menjalin kasih dengan kakak kelas. Terus dia kuliah di Semarang, dan kami terjebak LDR. Kebayang dong indahnya memadu kasih di satu kota yang sama, menikmati indahnya jalanan kota bersama, mengukir kenangan. Ditambah dengan orang tua juga penginnya saya gak terlalu jauh kuliahnya, dan Semarang seolah sudah jadi patokan kota terjauh yang diwanti-wanti mereka. Jadi lah, daftar kampus yang letaknya di Semarang duluan.

Walau sebelum UN, udah diputusin coy sama si pujaan hati! Hahaha, tapi masih mengidamkan berada di kota yang sama. Karena merasa penyebab putus adalah jarak. Padahal ya emang gak jodoh! Hampir semua PTN yang ada di Semarang, menolak saya. Dan akhirnya consider Yogyakarta, mencoba peruntungan lain. Saat-saat terakhir, pengumuman bersamaan antara UNNES (Semarang) sama UGM. Keterima dua-duanya, tapi nyatanya saya pilih UGM. Mungkin karena yang di Semarang, bukan jurusan yang saya inginkan. Mungkin memang jalannya sudah seperti itu, dan saat itu seolah saya yakin kalau hampir gak ada kata balikan dalam kamus saya.

Dari dua pengalaman masuk sekolah dan kampus itu, saya menarik kesimpulan:

Do it not because of someone, make it your truly choice.

Jangan memilih atau memaksakan menjalani hal karena seseorang. Karena tuntutan keluarga. Karena alasan pengen dicap pintar, populer, terkenal. Apalagi dengan alasan ada seseorang yang belum barang tentu menjanjikan masa depan bersama.

Hal ini yang akhirnya membuat saya bisa kasih wejangan ke adik ipar; yang kemarin galau bab kerjaan.

Next projectnya jauh di timur Indonesia; dia suka dengan project itu, dan dia sudah banyak belajar plus berkorban untuk dapetin project itu. On the other side, mami galau ditinggal anak bontot. Khawatir soal keadaan seperti apa yang menanti anaknya disana. What can I say? Kasih lah pengertian ke orang tua; kasih tahu dan buat mereka paham soal apa yang ingin diraih, dicapai, diwujudkan. Kasih bukti juga bahwa hal ini yang membuat bahagia dan sukses. Kalau ternyata pada akhirnya anggapan kita salah? Ya berarti dijadikan pelajaran hidup, sebuah hal yang mahal tapi worth to feel.

Karena saya pernah melihat masa saat ini dari orang yang sepanjang hidupnya hanya menuruti perkataan orang lain. Didikte oleh pihak lain. Hasilnya? Looks happy outside, but devastated inside. And I think I made it clear for you not to be the same like that, too. I mean, I got that. To explain parents tentang passion; adalah sebuah perkara sulit. Tapi bukan tidak mungkin.

Dan saya masih percaya kalimat sakti itu, “Ridha orangtua adalah ridha Allah SWT”.

So, buat yang sedang di ambang kegalauan akan suatu hal, coba diingat lagi baik-baik, apa alasan dibalik pilihan tersebut. Karena seseorang? Karena gengsi? Atau karena jauh di dalam lubuk hati kalian, hal itu yang benar-benar ingin dilakukan?

a wife, Mon-Sat office worker.

Menurut kamu?