Let’s Do Self-Googling

Dulu, saya meng-amin-i sekali statement ini:

Yang di posting di sosial media kita ya terserah kita, silahkan unfollow kalo gak suka ngeliatnya.

2018, saya rasanya perlu mengkoreksi statement tersebut. Yes, indeed kita memang gak harus follow akun seseorang hanya karena dia teman kerja/sekolah. Kalau kita gak suka dengan kontennya, gak wajib harus difollow karena ‘gak enak‘ atau risih.
Tapi, kalau ada teman atau orang yang menegur perilaku kita di media sosial, mungkin kita juga yang perlu berkaca diri.

Saya beberapa kali baca dan memang membuktikan, rekam jejak digital susah dihilangkan (some of them bilang gak bisa dihilangkan).

Beberapa orang gagal mendapatkan beasiswa internasional atau pekerjaan impian karena hasil kurang google diri sendiri.
Yup, saya sering melakukannya atas dasar ‘kepo’; dan kadang dimintai tolong oleh staf SDM. Googling nama kandidat.
Minimal muncul akun sosial medianya, facebook, twitter, instagram. Sampai muncul LinkedIn, halaman resource dari kampus dulunya kuliah atau bersekolah.
Paling asyik ya kalau punya pinterest, personal blog, nambah hasil google lagi.
Di semua platform sosial media tersebut, memang sudah ada fitur hidden atau privatenya. Kalau semuanya di private, pilihan ekstrem harus diambil: follow pakai akun ‘bayangan’.
Tambah waktu riset sampai akhirnya di approve dan bisa melihat karakter.
Kembali lagi kalau kita ditegur orang karena apa yang kita lakukan di media sosial, dan berkaca pada ‘Self-googling’ tadi, mungkin baiknya kita juga memfilter.
Apakah kita pernah secara emosi dan impulsif mengatakan atau mengunggah hal yang kurang pas?
I know someone who really has a good report; in googling the name.
Kami saling follow di instagram. Pernah suatu ketika saya melihat postingan akun gosip viral di tab jelajah instagram saya.
Saya tap untuk lihat gosipnya ( saya gak follow tapi sering pengen tau aja 😛 ), mengejutkan karena saya melihat komen dari orang yang saya bilang report-nya bagus.
Komentarnya memaki, bahkan mengandung unsur SARA. Sedih akhirnya mengetahui report bagusnya tercoreng.
Well yes, itu akun sosial mediamu, kamu bebas lakukan apapun, dan kalau ada yang tidak suka, orang bebas unfollow.
Tapi atas nama rekam jejak digital yang susah dihapuskan, alangkah baiknya kita mengevaluasi diri; sudah bijaksanakah kita dalam bermedia sosial?

a wife, Mon-Sat office worker.
3 comments
  1. Nice and i like the date u made this posting 🙂
    Indeed, we sometime don’t realize how our emotion could give longer impact. Not only to other people but also ourself. Having a willingness to keep our ears open for critic is a good way to filter our manner on social media.

    1. Haai! Akhirnya ketemu juga di blog dan bisa komen ya 🙂
      yep, the other side of the topic, juga sih..
      Thank you for the comment, sis! 😀

  2. […] sih, rasanya kok makin kesini makin malas buka buku, lebih mudah google. Tapi, ya gimana lagi. Oh iya, sudah pernah google yourself juga? Lumayan bisa buat melihat personal branding kita di mata …. Fitur lain google yang saya suka adalah fitur doodle google saat hari-hari bersejarah, keren-keren […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *