Sensible me

Call me super sensitive or so – I don’t mind since I’d started getting used to. Last night I cried seeing city I’ve been living for this 10 years – so silent.

Sejak datang dan memutuskan tinggal di Jogja ini, dulu tahun 2010 – 2013. Tahun anak kuliahan, tahun banyak balas dendam karena menghabiskan masa SMP-SMA di kota kecamatan kecil. Melihat gemerlap lampu kota adalah satu dari sekian banyak stress release yang saya miliki. Kecil dulu, paling bahagia setiap lewat Jalan Sudirman – Jakarta kalau malam hari. Lampu yang menyala dari gedung-gedung pencakar langit, sorot lampu kendaraan, selalu membuat saya tertegun. Saya suka sekali night city view.

Sampai di Jogja, makin tahun makin ramai saja rasanya. Masih saya merasa heran bagaimana bisa orang-orang gemar membeli – bahkan berganti kendaraan, padahal UMR Jogja… rendah sekali. 2019 lalu rasanya saya sering sekali mengomel betapa orang tidak ada hentinya berkunjung ke Jogja hingga kota ini terasa sesak. Bagaimana tidak, mas suam saya sampai tidak bisa parkir di depan rumahnya karena sudah terlanjur diparkir oleh pendatang. Kami terpaksa harus menunggu hingga lepas tengah malam, hanya untuk parkir di depan rumah sendiri.

Tapi belakangan, saya justru rindu keramaian itu. Sekarang, Jogja ada di titik tersepi menurut saya dari 10 tahun ini. Wajar adanya, semua sedang dihimbau #DiRumahAja, #SocialDistancing. Tapi entah kenapa, saya pribadi justru takut dengan keadaan seperti ini.

Well, FYI saja, saya paling benci film-film dengan konsep bikin deg-degan. Alien kah, gangguan terorris kah, apapun itu yang kiranya nightmare, gak akan saya tonton. Alasannya, simply I can’t imagine if I were there. Tapi sekarang, berada di dunia ini rasanya gak beda dengan jadi lakon di film seperti itu. Itulah mengapa saya takut, ditambah saya gak bisa kumpul sama semua orang tersayang. Alhasil, saya nangis lihat Jogja sepi. Lihat pemandangan jam 7 malam laksana jam 11 malam. Lihat tempat perbelanjaan tutup, jalanan sepi, sedih rasanya.

I just don’t want to take any part in any war movie, but now I am in it. Call me super sensitive or anything, but yeah I am. Don’t even make me start to think about any economical effects. My head’s already hurt.

Menjadi seorang karyawan tetap di sebuah PMA dan bergerak dibidang manufaktur, ini gak ada bedanya dengan nightmare lainnya. Order yang, berkurang drastis. Kehilangan beberapa kesempatan emas untuk menghasilkan lebih banyak pemasukan, sampai cara untuk tetap mengedukasi ratusan buruh pabrik tentang pentingnya kebersihan diri. Stop to think about the managerial things, my level is not on it yet.

Tapi rasanya juga gak ada guna mengeluh saat ini. Semua orang menghadapi masalahnya masing-masing. SEMUA. Gimana, selagi kita masih diberi kesempatan untuk menjadi manusia yang lebih baik (bagi sesama dan bagi Tuhan) di setiap harinya, setiap saat yang sama pula kita bersyukur? Remember, this too shall pass, fellas. Hang in there, we’re in this together.

Tinggalkan Balasan