#WeekendGetaway – Surabaya Sidoarjo, rek!

“Kapan terakhir travelling?”

Kalau saya, sudah lama πŸ˜€ Walau pada arti sebenarnya travelling adalah bepergian, dan sebagai pengikut ajaran nomaden, saya sering bepergian. Tergantung panggilan mama atau mami, satu paket tas travelling dan segala kelengkapannya siap dijunjung. Maksudnya, kami nomaden bertempat tinggal di antara rumah mama atau mami (mertua) LOL.

“Kapan terakhir ke Surabaya?”

Saya, sudah lama sekali. Pertama kali ke Surabaya sekitar kelas 4 SD (kalau tidak salah ingat), singgah sesaat untuk lanjut perjalanan ke Lamongan dalam rangka menghadiri pernikahan keluarga. Lalu, kelas 6 SD (again, if I am not mistaken) untuk singgah sesaat sebelum melanjutkan perjalanan ke Bromo. Setelah itu, saya hampir tidak pernah lagi menginjakkan kaki di tanah Jawa bagian timur. Paling mentok adalah, Solo πŸ˜€ which is literally masih Jawa Tengah (oops forgive me for that Jaksel accent) :P.

Selepas menikah, saya memiliki kesempatan untuk ke Surabaya, karena si mas punya tante yang tinggal di Sidoarjo. Saya pernah berucap ke mas, “kapan-kapan travelling lah kita ke Surabaya, mumpung ada tante!”. Walau sampai di bulan ke sembilan menikah, kami belum memiliki kesempatan untuk travelling.

Awal bulan September lalu, kami akhirnya dapat kesempatan diundang ke Sidoarjo! Yeay! Mulai deh sang perfeksionis ini sibuk melihat-lihat tiket kereta, atur jadwal, dan atur destinasi. Walau sebenarnya kedatangan kami ke Sidoarjo bukan untuk bersenang-senang; ya, tante ternyata sedang sakit dan kami berniat menjenguk. Tetapi, rasanya kok kurang ya, kalau tidak sekalian berjalan-jalan ke Surabaya?

Pilihan saya selalu jatuh ke aplikasi Traveloka. Cari tiket kereta, pakai kode promo, sampai akhirnya cari tempat penginapan sesuai keinginan. Lho kok cari penginapan? Saya dan si mas memang sering canggung kalau menginap di tempat keluarga, apalagi tante baru sakit, tentunya kami tidak ingin merepotkan keluarga. Toh kami juga tidak merasa direpotkan dengan mencari penginapan. Tinggal cari lokasi, pilih tanggal, pilih jumlah tamu, dan filter berdasarkan keinginan. Kami memutuskan filter berdasarkan: lokasi (yang tidak terlalu jauh dari rumah tante) dan tentunya harga (dibawah 200k).

“Tring!”

Ada lho penginapan yang sesuai dan homey banget. Beberapa malah. Padahal tadinya kami pikir, Sidoarjo dan Surabaya merupakan daerah yang mungkin, penginapannya akan mahal (juga dikarenakan disitu adalah kawasan industri). Kami pilih yang sesuai, dan masukkan kode voucher. Pada akhirnya kami cukup membayar 280k untuk total 3 hari 2 malam menginap. WHOA! πŸ˜€ (teriak kegirangan)

Melanjutkan packing dan juga mengurus kerjaan yang akan ditinggalkan (karena kami masing-masing mengambil jatah cuti satu hari), kami masih terus excited menyusun rencana tempat yang akan kami singgahi. Oh ya, kami bukan tipe yang ketika travelling, menuju ke lokasi wisatawan berkumpul, tapi hanya city tour dan melihat-lihat serta makan makanan yang khas dari daerah tersebut πŸ™‚

Di hari keberangkatan, kami (saya, mas, mami, dan om) berangkuts ke stasiun Lempuyangan jam 6 pagi. Kereta kami akan berangkat jam 7 paginya; jadi kami masih sempat beli sarapan di stasiun πŸ˜€ dan ternyata keretanya sudah standby dong di track-nya.. kirain masih nunggu πŸ˜€ jadilah kami sarapannya di dalam kereta.

Kereta api berangkat on time, dan fyi kami naik kereta ekonomi Sri Tanjung.

Di keberangkatan ini, saya terpisah dari rombongan, hiks πŸ™ ini karena saya agak terlalu mepet pesan kereta berangkatnya, walau enak bisa pilih sendiri kursi di keretanya (saat pesan di Traveloka), tapi saya sudah gak kebagian seat 2-2. Di kereta api Sri Tanjung ini, seatnya adalah 2-2 dan 3-3, sehingga 1 row bisa terisi 5 orang, dan karena berhadapan, jadi 10 orang. Menurut saya, efeknya adalah… sempit jalanannya πŸ™‚ Jadi gak bisa leluasa berjalan di gerbong (lagian siapa suruh jalan jalan di gerbong kereta).

Perjalanan kami mulus dilalui sesuai jadwal, sehingga kami sampai di Stasiun Wonokromo sekitar jam 2 kurang (siang). Harusnya sih kami turun di stasiun Gubeng, tapi apa daya diminta turun di stasiun Wonokromo (lebih dekat ke arah Sidoarjo).

Refleks pertama ketika keluar stasiun:Β Panas! Terik!Β danΒ MacetΒ πŸ™ Tapi ya wajar sih, kami memang sudah tahu akan begitu rasanya πŸ˜€ Langsung saya cus pesan Grab Car dengan tujuan penginapan saya. Reflek kedua: GrabCar di Surabaya lebih tinggi tarifnya ketimbang di Jogja (atau memang wajar segitu karena jaraknya jauh, sementara di Jogja kemana-mana dekat, ya?).

Sampai di penginapan bernama D8 Every Guest Room, inilah penginapan yang kami pilih πŸ™‚

Jadi di D8 Every Guest ini (nantinya hanya akan disebut D8 karena, panjang amat yak…), konsepnya homestay/kost harian. Jadi kita akan tinggal 1 rumah dengan owner, dan di D8 ini hanya ada 2 kamar. InsyaAllah tidak saling mengganggu πŸ™‚

Pertama kali masuk, ku langsung jatuh cinta!

Rumahnya gaya minimalis banget, di perumahan/kavling yang tidak terganggu suara bising jalan raya. Ada mini carport in case kalian bawa motor/mobil LCGC. Taman juga, di bagian depan dan belakang (walau akan susah menikmati taman karena Sidoarjo panas teriknya..), ada dapur yang bisa dipakai bersama (bebas buat kopi/teh!) dan pakai alat makan/masak bersama (terbukti dengan saya memasak Indomie), bikin ada aura feels like home-nya. Di ruang tengahnya juga ada sofa dan koleksi buku-buku si owner yang mayoritas membahas… interior rumah. Si owner banyak terinspirasi sama gaya minimalis asiknya ala IKEA, no wonder perabotannya juga mostly pakai dari IKEA.

Oya, yang menginap di homestay ini hanya saya dan si mas. Jadi, kami puas banget! Ownernya ramah, rumahnya nyaman, hampir gak ada keluhan kecuali aliran airnya sering naik turun. Tapi kami memahaminya πŸ™‚ Dan jadi salah satu poin plus karena mereka memelihara Meong!!! Si meong ini super selo hidupnya dan santai banget; saya puas uyel-uyel.

Di hari pertama kami di Sidoarjo, mostly kami habiskan untuk bercerita dengan tante dan keluarga. Kami belum banyak eksplor, walau akhirnya dapat pinjaman sepeda motor yang memudahkan mobilitas kami πŸ˜‰

Hari kedua di Sidoarjo, kami memutuskan untuk sarapan dengan menu Soto Lamongan. Gurih banget sih, ternyata! πŸ˜€ Kami lanjut untuk ke tempat tante, dan dikasih waktu untuk menikmati Rawon khas Surabaya yang…orisinil dan beda dari apa yang biasa kami makan di Jogja πŸ˜€ Selepas santap siang, saya dan mas berkesempatan untuk eksplor Surabaya. FYI, jarak dari Sidoarjo ke Surabaya sekitar 20km-an, tapi teriknya siang hari itu gak menyulutkan nyali kami untuk menerjang kota.

Tujuan pertama kami adalah mencari titipan sovenir patung Sura-Baya.

Perjalanan mencari sovenir ini agak lucu, karena ternyata cukup susah menemukan miniatur khas kota Surabaya sendiri. Akhirnya kami menemukan barang yang dicari di dinas perindustrian. Hmm.. Lanjut, kami ke KBS (Kebun Binatang Surabaya). Bukan untuk berwisata, tetapi karena informasinya, disana juga kami bisa membeli replika patung ikonik Sura-Baya. Sudah berkeliling kesana kemari, ternyata itu hanya kabar burung. Walau kami sempat berfoto di depan patung aslinya πŸ˜€

patung Sura-Baya
patung Sura-Baya
kodomo/komodo?
kodomo/komodo?

Dari Surabaya bagian selatan, kami melesat ke utara, dimana kami pengen melihat jembatan Suramadu. Bermodalkan aplikasi penunjuk arah Waze, kami berangkat dengan absurdnya. Ajaibnya, kami dibawa melewati jalan-jalan protokol dan ikonik dari Surabaya. Bahagia rasanya bisa melihat mall besar, rumah-rumah #CrazyRichSurabayan, dan indahnya tata kota Surabaya sekarang. Walau panas, tapi tidak terlalu berasa lho ketika melewati rimbunnya pohon besar. Kudos untuk warga Surabaya!

Kami sempat berhenti sebentar di Taman Hiburan Pantai Kenjeran, yang ternyata sedang surut, hiks πŸ™ Tapi lumayan kami bisa berfoto dengan latar belakang Jembatan Suroboyo (jembatan versi mini dari Suramadu, harusnya sih ada Jembatan Madura juga di ujung satunya). Melesat lagi ke Sentra Pasar Ikan, yang ternyata juga sepi πŸ™ Untungnya, ada pedagang yang ramai menjual dagangan ikan lautnya di pinggir jalan; kami pun berhenti untuk memborong ikan asin dan ikan asap. Favorit seluruh keluarga! Lepas belanja, kami melintas di bawah jembatan Suramadu, dan berfoto sekilas dengan latar belakang langit sore. Kalau teringat belum cukup sore, kami mungkin sekalian menyebrang ke Madura πŸ˜€

Jembatan Surabaya
Jembatan Surabaya
Jembatan SuraMadu
Jembatan SuraMadu

Selesai petualangan berkeliling, kami pun melesat pulang ke Sidoarjo. Akan tetapi, badan tidak bisa bohong kalau capek. Ditambah, kami pulang ke Sidoarjo bertepatan dengan jam pulang kantor karyawan. Macetnya..teringat Jakarta. Maka di perjalanan pulangnya, kami banyak mampir beberapa kali di minimarket, dan terakhir di restoran cepat saji.

Sampai di penginapan, kami mandi dan istirahat sebentar, lalu lanjut ke rumah tante untuk berbagi oleh-oleh. Malam itu kami tidur larut karena puas mengobrol, dan berujung pada keesokan harinya, kami bangun siang πŸ˜€ Padahal kereta pulang jam 1 siang. Selepas berpamitan singkat, kami menuju Stasiun Gubeng menggunakan GrabCar. Macet pula, untung kami tidak tertinggal kereta. Stasiun Gubeng jauh lebih modern, dan kereta seperti biasa berangkat on time. Kali ini kami bisa duduk berhadapan πŸ™‚

Sampai di Jogja sekitar jam 8 malam, kami langsung taroh barang-barang di rumah, dan lanjut keluar lagi untuk cari makan πŸ˜€

Kalau ditanya apakah siap kembali ke Surabaya, saya pasti siap!

Banyak lagi tempat di Surabaya yang belum puas saya singgahi, semoga kami diberi waktu lain kali untuk mampir lagi.

P.S.: Sakit punggung dan pinggang akibat duduk di motor terus saat eksplor Surabaya, ditambah duduk tegak di kereta api ekonomi, baru sembuh sekitar 2 minggu setelah dua kali pijat refleksi dan satu tube Counterpain yang terus dioles πŸ˜€

a wife, Mon-Sat office worker.
3 comments
  1. Konsep guest house-nya semacam airbnb gitu ya mbak. Ternyata bisa jg nemu di Traveloka.
    Keren ih Traveloka

    1. Iya, saya juga saranin ke ownernya supaya diiklankan di airBNB juga, tapi malah baru tau konsep airbnb mereka πŸ˜€
      Dihitung-hitung, komparasi antara airbnb sama traveloka, lebih jujur harga di traveloka sih. Cuma emang airbnb dapet enaknya karena bisa ikut tinggal bareng dan belajar budaya bareng ownernya πŸ™‚

  2. […] mengenai topik sensitif soal pentingnya menjaga lisan ketika lagi ngobrol sama orang lain. Another weekend getaway ke Surabaya sama mas suam; ke kota yang sudah lama gak diampiri. Mencoba per… Belajar editing suara buat podcast, supaya lebih enak […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *