not a distance lover

saya bukan orang yang bisa survive dengan jarak.

ya, saya pernah menjalani hubungan jarak jauh a.ka Long Distance Relationship.
it went well, until 11 months and then he realized that ‘friends‘ is the suitable term for us.
for me, it went well until I realized that I can’t live with distance.
in my opinion, ketika punya pasangan, enaknya itu karena kemana-mana jadi punya teman. ada teman ngobrol anytime, teman jalan, teman makan, teman gila-gilaan, teman hidup ๐Ÿ™‚
itu yang gak bisa saya dapatkan dari hubungan jarak jauh.
mau ngobrol saat itu juga, ada media telepon, skype, dan lain-lain…. tapi mungkin dia lagi gak bisa diajak ngobrol.
mau jalan yang sama-sama bisa ngeliat pemandangan yang sama, well, it’s hard.
mau makan bareng, kudu ada koneksi internet stabil maha dewa yang bisa buat seolah sedang makan bareng.
mau gila-gilaan, bisa, bisa berakhir sama-sama gila.
saya menyerah pada keadaan saya gak kuat dengan LDR. sampai saya membatin, kalau bisa saya jangan dapet pasangan yang LDR lagi, ya Allah…
alhamdulillah, saat ini dapat pasangan yang VSDR.
Very Short Distance Relationship.
*musik background: Pacar Lima Langkah*
yaa, gak sampai 5 langkah juga sih, kecuali satu langkahmu = 2 km.
but having a boyfriend who’s home only less than 10 kms than yours is very short distance, right? bahkan Bekasi – Depok aja lebih jauh dari itu ๐Ÿ˜›
you asked me apa perbedaan mendasar antara LDR dan VSDR? absolutely the distance and also, the existence.
sampai saat ini, biar dibilang kaya tukang ojek, saya sama si mas masih sering saling antar mengantar. saling teman menemani.
biar dibilang kaya perangko sama lem, juga saya lempeng aja.
ada hal yang saya gak perlu diantar sama mas? dan sebaliknya? ada.
kami masih punya kehidupan masing-masing ๐Ÿ™‚ (read more)
dan yang paling saya appreciate, adalah akhirnya saya bisa ngoceh panjang lebar tinggi rendah entah didengerin atau nggak sama si mas.
saya bisa gila-gilaan bareng, makan bareng, ada di jam waktu yang sama.
well, that is me. how about you? ๐Ÿ™‚