Dari kota satelit menuju pusat kota via Teman Bus

logo teman bus

Saya sempat bingung waktu beberapa jalur bus kota Yogyakarta pada hilang. Emm, trayeknya lebih tepatnya.

Walaupun bukan pengguna rutin bus kota (Kopata), tapi pakai bus kota ini cukup remind me of masa-masa awal kuliah dulu. Dimana saya harus naik bus jalur 2 untuk ke kampus (berangkat dari daerah Terban) – ini hanya yang cah Jogja aja nih yang paham.. lately begitu dapat teman yang bisa saya tebengi tiap kuliah, saya baru sadar percuma banget dulu naik bus, kalo ternyata jalan kaki lebih cepat 😀

Nah waktu berjalan, saya dibekali motor, lulus, kerja masih pakai motor (plus kerjanya juga nun di utara sana dan sekarang di selatan sini). Tapi karena ortu pindah ke Jogja, akhirnya saya ngerasain lagi kadang-kadang pakai Kopata jalur 15 (Godean-Kota Jogja). Mama juga termasuk sering pakai bus itu, antisipasi ada cegatan polisi macet karena bawa motor sendiri. Nah, per 2018 atau 2019 lalu, mendadak si jalur 15 itu hilang. Gone. Akibatnya, orang-orang jadi lebih sering pakai…. motor pribadi, mobil pribadi, sampai tingkat okupansi taksi dan ojek online meningkat pesat. Sempat ku kira memang Jogja udah gak pengen pakai bus lagi… sampai bulan Oktober kemarin lihat ada bus mirip Trans Jogja yang melintas di Godean.

LOH KOK?!

Kalau cuma bus Trans Jogja, saya udah sering naik. Tapi kok dia merambah Godean ya? Saya tanya mama, katanya memang trayek baru yang sedang diujicoba-kan. Waaaah, mendadak sumringah.

Selayaknya alogaritma instagram yang semakin pesat, ujug-ujug iklan trayek baru bus ini muncul disaat saya sekrol sana sekrol sini. Dan barulah saya tahu, bus ini mirip doang sama Trans Jogja, tapi namanya Teman Bus.

Teman Bus sudah hadir di beberapa kota di Indonesia, Solo dan Palembang salah keduanya. Coba aja cek official instagramnya, siapa tahu kota kamu selanjutnya. Nah yang bikin semangat lagi, di Jogja pun gak cuma trayek Godean aja, tapi juga ada trayek Pakem/utara dan trayek Kalasan/timur. Tinggal trayek Bantul nih, penasaran sebagai calon warga Bantul! Kalau saya ibaratkan, Teman Bus ini memang semacam ‘feeder bus’ dari daerah pinggir kota Jogja, menuju ke kota Jogja – yang nantinya bisa dilanjut ke Trans Jogja. Gitu gaes…

Setelah tahu informasinya, dan juga download appnya (untuk tahu info halte dan bahkan posisi bus real time), saya mantapkan hati mencoba bus ini, untuk pulang ke rumah. Posisi awal: saya selesai tambal gigi di RS Panti Rapih (Oke yup, sekarang udah bisa tambal gigi di RS yang fasilitasnya memadai, protokolnya ketat banget, yang penting hamba tidak sakit lagi giginya). Well, saya memulai perjalanan dari halte Trans Jogja di depan RSPR, bilang mau ke Terminal Ngabean (because itu poolnya si Teman Bus arah barat).

Tiket bus trans jogja

Diberi tiketnya untuk 1 kali perjalanan

Dari situ saya lupa naik jalur berapa, pokoknya diminta berhenti transit di halte depan SMP 5 Yogyakarta / Kridosono. Lanjut ke jalur sekian yang ke terminal Ngabean.

Jalan terminal ngabean
Jalan terminal Ngabean nih gaes

Oke foto di atas diambil saat sudah naik motor ges.. maapkeun 😅 nah ternyata blessing juga jalan-jalan sendirian, karena dari Kridosono-Ngabean, ternyata ngelewatin Jalan Malioboro generasi 4.0 alias saat tidak boleh dilalui kendaraan bermotor kecuali gawat darurat dan Trans Jogja.

Well, I need to give a background story first.

Tanggal 1-15 November 2020 lalu, Dinas Perhubungan Yogyakarta mengadakan uji coba lintas Malioboro terbaru. Yang mana… jalan Malioboronya di off-kan dari kendaraan bermotor (kecuali gawat darurat dan Trans Jogja), so pejalan kaki and tourists friendly bangets! Terus, jalan depan Toko Progo (can’t remember the name and lazy to google it – pardon) sampai jalan Mataram dibuat satu arah ke utara. Jalan Pasar Kembang/ Stasiun Tugu dibuat satu arah ke barat, dan Ngampilan dibuat satu arah ke selatan. Ribet? Sama, sebagai warga kota Jogja yang tinggal pas di tengah kota banget itu, saya sempat bingung dan kagok kudu lewat mana. Well skip to the end of uji coba, ternyata banyak yang protes juga gaes, sehingga saat tulisan ini ditulis (5 Desember 2020), jalan Malioboro bebas kendaraan hanya jika malam weekend (Jumat malam, Sabtu malam, Minggu malam dari jam 18.00-24.00).

Back to my original story, ngerasain lewat Jalan Malioboro pakai Trans Jogja a bit privilege juga sih 😀 jadi senang dan bisa lihat-lihat. Sampai di Ngabean, tanya-tanya Teman Bus dimana, ternyata kudu keluar dari halte Trans Jogjanya dulu, agak gak efisien sih… but it is okay. Dan Teman Bus sudah tersedia siap berangkat.

Interior teman bus
Bagian dalam Teman Bus

Posisi supir teman bus

Pintu masuk yang berdekatan dengan pak supir

Waktu saya naik, sudah ada 3 penumpang lainnya (salah satunya mas-mas street photography enthusiast kayanya, jepret-jepret pake kameranya). Tempat duduknya sudah di mark untuk diberi jarak dengan penumpang lainnya, ada hand sanitizer, dan selalu dibersihkan lagi setiap lagi ‘ngetem’. Pak supirnya ramah, nyetirnya gak ugal-ugalan, rapi pula penampilannya.

Jadi, Teman Bus ini beda kaya bus kota dulu. Dia gak bisa berhenti sewaktu-waktu, alias hanya bisa berhenti di halte saja. Karena sudah dilengkapi dengan GPS, maka announcer bisa otomatis ‘ngomong’ kalau bus sudah sampai di halte. Pintu masuknya dari depan, sejajar dengan pak supir, dan per 2021 nanti pembayarannya non tunai alias tinggal tap aja ke mesin yang ada dekat pintu masuk. Sekarang masih tahap uji coba, jadi gratis tis! ACnya dingin, interiornya sedikit lebih lega dari Trans Jogja. Pintu keluarnya dari sisi tengah bus, dan tanpa kernet tambahan alias hanya ada pak supir saja.

Setelah melalui beberapa titik halte, saya juga baru sadar ternyata haltenya masih sama dengan Trans Jogja, memang ada beberapa halte yang dibuat khusus untuk trayek ini, that’s why kalau download appnya bisa tahu halte mana saja yang baru. Alhamdulillah halte terdekat dari rumah saya hanya butuh jalan kaki sekitar 100 meter saja, lumayan buat nambah langkah jalan kaki. 

Teman Bus ini cukup jadi pilihan aman dan nyaman untuk warga Yogyakarta yang tinggal di daerah satelit menuju ke kota. Menurut saya pilihannya sudah tepat, hanya saja memang karena suasana pandemi jadi mungkin masih terasa sepi (beberapa saat setelah percobaan pertama ini, saya rutin menggunakan Teman Bus ketika akan pergi dan atau pulang ke kota dan mayoritas isinya adalah ibu-ibu yang akan berbelanja ke pasar). Pendekatan yang dilakukan sudah cukup menurut saya, digitalisasi, integrasi app, sampai aktif di sosmed. Pengen banget supaya ini jadi salah satu cara mengurangi jumlah kendaraan pribadi di jalan raya, ya!

Tinggalkan Balasan