Tidak ada superhero disini

Mungkin kamu terlena dengan cerita Superman, si one man show yang bisa terbang, bisa berlari cepat, bisa menyelamatkan warga, dan tetap charming serta baik budi pekertinya dengan keluarganya. Atau kamu terbuai indahnya Hulk, yang bisa mengubah emosi negatifnya dari image si tukang marah-marah, menjadi penyelamat disaat kota sedang chaos. Apakah kamu mendambakan indahnya Avengers team, yang mana isinya adalah superhero kuat dan hebat, lalu bersama-sama bisa melawan Thanos?

Padahal dalam kehidupan ini, dalam lingkup tiga hektar ini, superhero itu tidak ada. Setidaknya, tidak ada sepanjang umur balita saya disini.

Jadi, kamu bisa berubah sekarang menjadi warga biasa, menjalani hari seperti biasa, dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang nyaman untuk ditinggali semua orang yang biasa. Lagi pula, saya tidak melihat keterbutuhan kita akan seorang (apalagi lebih dari satu orang) superhero disini. Nyatanya, semisal ada superhero-pun, tetap ada yang sakit. Tetap ada yang jadi korban. Tetap ada yang salah.

Ya karena kita semua sebenarnya manusia biasa. Sama. (see, you’re not that super. d’uh)

Adapun semisal kamu merasa adanya kamu sebagai superhero bisa membuat kita semua nyaman, itu semua bukan semata-mata ulahmu. Tapi hei, ulah si tukang sapu jalanan yang membuat lingkungan bersih. Ulah si pembeli kasur yang membuat tidur kita nyaman. Dan juga, ulah si pemanggil hujan, agar kita tidak senantiasa kepanasan. Percayalah kamu diciptakan bukan untuk berjumawa. You’re meant to be something for someone, and maybe that’s why you’re become a governor? (well hey pak Anies, did not meant to talk bout ya!)

Mumpung masih bulan kedua di duaribu duapuluh, mumpung semuanya belum terlanjur terlambat, mumpung belum banyak orang biasa yang malah tersakiti oleh ulah ‘superhero-waham’-mu, coba besok lepaskan kostum itu. Kamu akan merasa lebih ringan, lebih biasa, dan lebih bisa berkenalan dengan tukang sapu jalanan, pembeli kasur, pemanggil hujan, bahkan mungkin si tukang penjaga pintu air yang dulu akrab denganmu.

Atau ketika kamu merasa hanya kamu-lah yang bisa tuntas mengerjakan pekerjaan superman-mu, ketika kamu merasa dulu sudah hampir satu dasawarsa kamu menjadi superman, dan kamu bisa membawa kostum superman-mu disini, nyatanya di umur jagungmu yang kedua kamu harus ikhlas melepaskan kostum itu. Meninggalkannya di rumah, menyimpannya di lemari indahmu.

Mari menjadi manusia biasa yang normal. Yang kadang merasa sakit, yang gak selamanya bahagia, dan yang gak selalu benar. Disini kita tunjukkan bersama, bahwa kita semua sama setaranya.

Tinggalkan Balasan