Tolerate and Understanding

Bahasan atau topik ini sudah lama saya pengen share, tapi bingung juga cara sharenya. Bahkan sampai saat saya mengetik ini, saya masih bingung gimana cara deskripsikannya. Some people might think and feels that it is too sensitive, don’t they? Sedikit disclaimer, saya bukan ingin membahas perkara toleransi antar umat beragama. No, but deep more and way wider than that.

Katakanlah, saya dan suami mengenal seorang teman.

Jenjang pendidikan yang mulus, diploma, sarjana, master. Kehidupan pribadi yang indah, menikah sebelum 25 tahun, pasangan yang pengertian, seorang anak laki-laki yang lucu. Those all sounds and looks so…cukup kan? Kemampuan finansial yang dirasa mencukupi tercermin dari penampilannya. Terakhir kami bertemu dengannya, sebuah mobil MPV bernilai diatas 250 juta rupiah berhasil dia kendarai. Eits, bukan itu saja, gaya berpakaiannya, gaya hidupnya, mengantongi poin yang cukup dari perjalanannya menggunakan layanan pesawat terbang, dan pencapaiannya yang semuanya dipaparkan di sosial media pribadi miliknya, rasanya sudah cukup untuk membungkam netizen yang penasaran dengan pekerjaannya. Oya, pekerjaannya bukan jenis pekerjaan 9-5, bukan bekerja di kubikel kantor, dia seorang freelancer dan proyeknya-pun banyak yang sukses.

Itu background storynya.

Lalu disinilah kami (saya dan suami) yang, saya tidak perlu jabarkan panjang lebar, tapi mungkin sangat jauh disetarakan dengan teman itu. Walau, karena pertemanan kami, banyak juga teman lain yang seolah membandingkan kami dengan si teman sukses itu. Me just being chill; perihal dibanding-bandingkan ini sudah bukan barang baru bagi saya, diantara belasan sepupu-sepupu saya yang sukses dan punya cerita masing-masing. Syukurnya, kami tidak merasa bersaing. Tanyakan pada sepupu saya yang tersebar dimana-mana. Walau kadang lingkungan membandingkan kami, kami tumbuh dan hidup menjadi diri kami sendiri, punya cerita dan jalan hidup masing-masing, tidak saling sikut menyikut. Tapi mas suam, beda. Sedikit tidak terima dibandingkan, kadang membuat dia uring-uringan kesal.

“What’s wrong with us? Should we do other people do? Liburan ke luar negeri, beli dan pakai barang bermerek, mengendarai kendaraan mahal, dan lainnya?”, dia pernah berkata di depan saya saat dibandingkan.

Yang saya katakan kepada dia, dan selalu menjadi pedoman hidup saya, tolak ukur kebahagiaan dan kesuksesan orang itu berbeda.

Sebuah hal yang subyektif, sama seperti cantik, kaya, baik, taat agama. Saya punya kriteria sendiri mengenai definisi cantik. Tapi kriteria saya, pasti berbeda dengan kriteria suami saya dalam mendefinisikan cantik. Pun dengan pengertian kaya, baik, dan sukses. Mungkin, menurut teman-teman yang membandingkan kami dengan teman sukses kami itu, kriteria sukses sesungguhnya tercermin di dia, teman yang tadi saya ceritakan. Tapi menurut kami (saya dan suami), sukses gak melulu harus seperti itu. Apalagi pendapat pribadi saya bahwa sukses itu sangat umum. Sukses dalam pekerjaan, dalam pendidikan, dalam keluarga, dalam hal finansial sekalipun. Dan hal itu tidak bisa mendefinisikan kebahagiaan saya.

Bahagia sih bahagia aja, ketawa sih ketawa aja, walau esok adalah hari Senen dan laporan sudah menunggu untuk dikerjakan. Senyum lepas aja, walau tanggal gajian masih jauh dan harus puasa beberapa hari agar dapat mengirit.

Kalau memang menurut si ‘teman sukses’ itu, definisi berhasil dalam kehidupan adalah seperti apa yang dia cerminkan, ya let him be.

Toleransi aja, “oh berarti menurut dia, saat ini dia sudah sukses.”. Tapi gak perlu kok memaksakan definisi itu harus dianut oleh semua orang. Gak perlu ada kata-kata, “gue udah gini nih, elo kapan?”, karena itu sebuah pertanyaan retoris. Karena kita gak harus seperti itu, untuk bisa bersikap seperti itu.

Lalu gimana kalau ada teman yang masih butuh pengakuan atas kesuksesan dirinya? Dimengerti aja, mungkin memang itu kriteria suksesnya. But it is us who define our own happiness and success. And it is not depending on other people.

a wife, Mon-Sat office worker.
Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *