We might be wrong

Mama (ibu kandung saya) dan adik kan tinggal disini. Masih ada space satu kamar yang bisa kami isi.
However, mami (mertua saya) juga tinggal disini and she is alone.

Sebagian dari kalian yang baca, pasti langsung menyarankan tinggal dengan mertua. Sayapun berpikir demikian. Itung-itung nemenin mami juga, kan.
Tapi mas suam punya keinginan untuk hidup mandiri. Pengen merasakan tinggal berdua dengan istri, dan lainnya.
Well, some of you might think: lah kan udah urus KPR? Ada rumah dong?
Iya, tapi ada satu dan sekian hal yang membuat kami belum bisa menempati rumah itu.
Salah sekian alasannya juga karena rumah tersebut masih butuh pembangunan lanjutan untuk area dapur dan garasinya; dan kami masih berusaha nabung untuk itu.
Seketika ada penawaran hunian sewa yang perbulan-nya berbayar 400k saja. Kami tergiur dan mencoba. Kebetulan both mama dan mami juga mengizinkan dan memaklumi.
Masa-masa awal begitu impulsif. Rasanya toko peralatan rumah tangga begitu mengundang melambai-lambai setiap kali gaji bulanan sudah ditransfer. Kami pun menikmati setiap saat disitu.
apartement illustrated
Memasuki bulan ke-enam, rasanya mulai banyak godaan dan alasan. Mama dan mami sering meminta kami untuk bergantian mengunjungi dan menginap, mengakibatkan kami bahkan jarang sekali tidur di hunian itu.
Setelah diskusi singkat di atas motor, kami sepakat berkata:
We might be wrong about this.
Kami mungkin terlalu terburu-buru menginginkan tinggal terpisah dari orang tua. Bahkan kami sadar, memang baiknya kami tinggal bersama dengan mama dan mami terlebih dahulu.
Setiap pulang kerja, lelah, dan harus mondar-mandir kesana kemari. Seperti gak fokus rasanya. Kami rundingan, dan memutuskan untuk tidak melanjutkan sewa.
Di momen 17 Agustus kemarin kami alhamdulillah selesai dari pindahan. Biar lelah ini dirasakan sesaat, asal restu orang tua didapat.
Salah satu pelajaran besar di awal kehidupan pernikahan kami; tentang mengesampingkan ego. Biarlah 8 bulan ini kami rugi waktu, tenaga, dan biaya; asalkan kedepannya kami bisa belajar untuk lebih tenang saat mengambil keputusan.
Buat kalian yang sudah menikah, pelajaran besar apa sih yang dirasakan pertama kali? Let’s share siapa tau bisa bermanfaat☺️

a wife, Mon-Sat office worker.
1 comment
  1. saaya belum nikah min
    jadinya belum bisa belajar apa2
    tapi mungkin belajar dari yang sudah meikah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *