After Married Life: Where to Live?

tempo hari saya sudah pernah berbagi cerita tentang KPR; kali ini saya mau kasih informasi tambahan yang masih berkaitan dengan rumah.
beberapa teman saya merasa belum ‘mampu’ untuk ikut KPR, alasan pribadi (karena tidak mau terbebani kredit terlalu lama) maupun alasan kewaspadaan karena malas namanya harus tercatut di bank atau harus berurusan dengan bank. terakhir, karena memang syaratnya belum mencukupi untuk ikut KPR.
tetapi, pernikahan di depan mata, dan sama-sama belum memiliki rencana dimana akan tinggal after wedding. coba list di bawah ini disimak bersama, siapa tahu jadi tercerahkan:

  1. Kontrakan Rumah. Yang ini memang pilihan hunian paling umum pasangan pengantin baru nan muda. Biasanya dibayarkan per tahun untuk biaya sewanya, dan berasa punya rumah sendiri, jadi kita bisa heboh-heboh bersama pasangan untuk hias rumah (ceilee). Another plus things, kita jadi bisa belajar bersosialisasi di lingkungan masyarakat (ikut ronda malam, arisan, dan lain-lain), kalau ada keluarga jauh yang dateng, bisa ikut nginep di rumah, dan kumpul juga. Paling penting, kalau memang sudah siap untuk punya baby/anak, di kontrakan memang pas sih. Minusnya, menurut saya, adalah kita gak bisa banyak ubah bangunan, dan itu perbedaan paling signifikan antara rumah pribadi dan rumah kontrakan sih.. Budget wise: (****)
    ilustrasi kontrakan rumah. Source: rimanews.com
  2. Paviliun / Kontrakan 1 Kamar. Paviliun ini biasanya banyak di kota-kota besar, semacam 1 rumah gedee, dimana setiap kamarnya disewakan (biasanya kamar mandi dalam, AC). Pilihan ini menurut saya tergolong yang termahal diantara yang lain, bahkan kalau diakumulasi hitung per tahun, lebih mahal dibandingkan ngontrak 1 rumah full. Menurut saya, pilihan ini juga cocok buat pasangan muda yang malas beli barang-barang rumah tangga karena biasanya paviliun ini sudah ada perabotannya. Untuk yang gak punya banyak waktu di rumah (sama-sama sibuk kerja), juga lebih enak karena gak ada aturan yang mengikat untuk ikut pertemuan warga, arisan, dan lainnya. Akan tetapi, dibanding fasilitas privatenya, gak enaknya adalah gak banyak space untuk keluarga/tamu jauh yang datang, harus bisa toleransi dengan tetangga sebelah kamar/satu rumah. Harga sewa yang terus melejit juga menjadi ancaman sekaligus tantangan! Budget wise: (*****)
    ilustrasi paviliun. Source: infokost.com
  3. Kosan khusus pasangan suami isteri. Ini versi low budget dari yang nomor 2; menurutku. Walaupun mungkin kalau dicari atau niat dimix, susah bedakan antara yang paviliun sama yang kosan. Yang saya bahas di nomor 3 ini, yang versi bener-bener kosan. Kamar mandi luar, kamar tanpa isi barang apapun, dan ukuran kamar relatif kecil. Kelebihannya jelas 1: kalian (kamu dan pasangan) bisa berhemat jauh untuk hal-hal yang lain. Kosan seperti ini juga cocok buat pasangan yang memang balik ke rumah untuk istirahat aja. Akan tetapi, biasanya kosan seperti ini minim fasilitas dapur untuk masak. Budget wise: (**)
    ilustrasi kosan pasutri. Source: dream.co.id
  4. Rumah Susun Sewa Sederhana (Rusunawa). Eits, jangan dulu berpikir malas mengenai opsi ini. Menurut saya, Rusunawa di Jogja jauh dari kesan kotor dan kumuh, kok. Kalau pengen tahu fasilitasnya, coba cek di website/kantor Dinas Perumahan yang ada di tempat kamu tinggal. Biasanya sih, setiap kabupaten memiliki Rusunawa masing-masing (or at least di Provinsi DIY yang saya tahu). Coba cek TKP, visit tempatnya, dan tanya syaratnya. Lazimnya, Rusunawa ini diperuntukkan untuk warga setempat (alamat KTP satu kabupaten dengan Rusunawa) yang belum memiliki rumah tinggal pribadi, dan memiliki penghasilan tetap per-bulannya. Harganya sangat rasional menurut saya; semirip dengan harga sewa kosan, tetapi yang kamu dapatkan gak hanya 1 kamar. Biaya sewanya juga dibayarkan per-bulan, sehingga kamu gak harus bayar di depan. Akan tetapi, karena diperuntukkan untuk warga setempat, seringnya Rusunawa ini sudah penuh, atau hanya bangunan paling atas saja yang masih kosong. Ketidakadaan elevator pasti akan menjadi tantangan buat kamu. Dan pesannya, selama tinggal di Rusunawa ini, banyaklah menabung; karena ada batas maksimal waktu tinggal di Rusunawa. Budget wise: (***)
    ilustrasi Rusunawa. Source: tribunnews.com

jadi, apakah kalian sudah decide mau tinggal dimana setelah menikah? tinggal di rumah orang tua juga bisa menjadi opsi, tapi saya gak masukkan di atas, karena saya kasih opsi untuk pasangan yang sudah siap angkat koper dari rumahnya masing-masing 😉
sebenarnya, dimanapun akan tinggal, Home is where the heart is.

a wife, Mon-Sat office worker.
2 comments
  1. […] After married, saya dan mas galau mau tinggal dimana. Mama (ibu kandung saya) dan adik kan tinggal disini. Masih ada space satu kamar yang bisa kami isi. However, mami (mertua saya) juga tinggal disini and she is alone. […]

  2. […] semua. Masih riweuh banget. Awal tahun, saya dan mas suam bersiap-siap menempati hunian baru. Nope, bukan rumah kami.. tapi kontrakan apartemen dadakan. Yes, kami tinggal di rumah susun per bula… Packing barang-barang yang bisa ikut dibawa, pindahan, semua sangat menyita energi dan waktu kami. […]

Menurut kamu?